Starship Troopers dan Kisah Film Pertama

Beberapa malam yang lalu, seperti biasa dengan jadwal tidur yang aneh… (merem jam 19.00 dan bangun jam 23.00, lalu tidur-tidur lagi jam jam 19.00 besok … kalong juga nggak gini-gini amat sih!) saya bangun sekitar jam sebelas malam dan nyalain TV. Lupa di channel mana, tapi ternyata sedang diputar film Straship Troopers (Paul Verhoeven, 1997)! Haha, saya langsung nonton… sayangnya nggak dari awal, ada mungkin sudah jalan seperempat film. Pas di bagian tokoh Rico nya baru lulus akademi dan belum mulai perang. Saya punya kenangan sendiri dengan film ini.

Starship Troopers adalah salah satu film “angkatan pertama” yang saya tonton, tepatnya fase-fase ketika saya mulai “ngerti bioskop.”

Maksudnya begini, selalu ada kali pertama kita pergi ke bioskop buat nonton kan? Biasanya kita pergi ke bioskop–meski endingnya mojok pacaran–karena kita “sadar” di sana ada film bagus,

Pengalaman saya sedikit beda, jadi saya mengenal bioskop bukan gara-gara di sana ada film bagus.

Saya mulai nonton film di bioskop itu kelas 2 SD, karena diajak ibu. Beliau ngajak saya nonton film Si Rawing (Denny H.W, 1991) dan dua tahun kemudian beliau kembali ngajak saya nonton sekuelnya; Si Rawing II: Pilih Tanding (Tommy Burnama, 1993)… saya masih inget, Ibu saya girang banget pas dua film itu keluar. Wajar sih soalnya ibu saya memang ngefans berat sama tokoh silat yang satu itu, dia itu setia pendengar sandiwara radio Si Rawing. Mungkin perasaannya macam kita sekarang yang novel favoritnya difilmkan.

Info tambahan: di sela-sela dua film tadi, kakak saya juga sempat ngajak nonton Robin Hood: Prince of Thieves (Kevin Reynolds, 1991).

Tapi semua pengalaman tadi cuma lewat begitu saja di memori saya. Karena saat itu saya nonton ya sekedar ngeliatin layar… apa yang saya tonton cuma lewat gitu aja di otak dan nggak nyangkut. Itu sebabnya kakak saya pernah ngejek habis-habisan gara-gara saya nggak bisa ingat satu dialog yang dia suka di Robin Hood, katanya saya nggak perhatian sama filmnya.

Terus ada satu momen dimana ibu saya sampe belingsatan nutupi muka saya gara-gara di film Si Rawing II itu ada adegan seksnya (kalau nggak salah antara istri si Rawing (Saraswati atau Laras gitu ya?) sama Pendekar Dewa Asmara). Dalam koridor tahun 90-an itu wajar karena tahun itu memang bioskop kita lagi penuh sama film-film “kentang”. Jadi malah aneh kalau sebuah film nggak ada begituannya, tapi… yaaa, tetep aja saya masih unyu, bersih dari noda dan dosa… nggak ngerti yang begituan (Kalau sekarang sih jangan ditanya bu… hehehe…)

Nah, kesadaran saya dalam pergi ke bioskop dan nonton film, artinya saya sadar apa yang ditonton dan bisa menikmatinya itu baru muncul di tahun 1995-an. Bahkan  saya sudah berani ke bioskop sendiri. Beberapa film yang menemani saya melewat fase dewasa itu adalah:
aaa

(1) Mighty Morphin Power Rangers: The Movie (Bryan Spicer, 1995)… film ini saya tonton di bioskop deket sekolah, bareng sama temen baik, cowok man! udah kaya homo cilik waktu itu sama dia, kemana-mana berdua terus, ciuman makan bareng di kantin, pergi dan pulang sekolah berdua, dll.

(2) Terus film kedua (yang lagi-lagi saya tonton bareng dia) adalah Street Fighter (Steven E. de Souza, 1994). Itu film masuk ke tahun 1995-an aja deh soalnya rilisnya akhir 1994 kalo nggak salah (cemen-cemen nggak sih film kita? Tapi dulu perasaan bagus-bagus aja tuh!)

(3) Junior (Ivan Reitman, 1994), rilis akhir tahun dan saya nonton sekitar 1995. Sama dia lagi!… ini kencan ketiga kita! Film ini monyong banget… ini kan film dewasa, waktu itu kita nggak mikir sampai ke sana. Kita cuma nonton itu gara-gara ada nama Arnold Schwarzenegger di poster. Kita kira setiap film Arnold pasti ada tembak-tembakannya, padahal ini kan film drama komedi… parah banget!

(4) The Saint of The Gambler (Wong Jing, 1995), film ini rada spesial karena saya tonton sekitar 10 kali di bioskop yang sama! Sampai penjaga karcisnya nyaris kenal… apa karena filmya bagus? Mungkin juga ya… tapi sebenarnya lebih karena waktu itu saya males masuk les, kebetulan durasi les sama durasi film sama dan diputar di jam yang berbarengan juga, dan kebetulan tempat les dan bioskop itu ada di satu deretan (cuma terpisah 4-5 toko gitu deh). Harga karcis waktu itu masih 1000 rupiah, yang artinya terjangkau sama anak SD, dan kebetulan film ini nyaris sebulan ada di bioskop itu. Dalam sebulan saya bolos les 4x dan 6x lagi nonton pas pulang sekolah (masih pake seragam!)… dasar anak bengal!
aaa

Setelah empat film itu, entah kenapa antara periode 1995 – 1997 saya nggak nemu film bagus lagi. Sampai akhirnya muncullah film Starship Troopers tahun 1997 (apa ini film baru saya tonton di tahun  1998 gitu ya? Lupa lagi).

Pada saat film ini muncul, mungkin karena “statusnya” sudah mencapai awal masa puber (ehm…) maka  saya mulai menaikkan level: yang tadinya cuma diajak nonton tapi nggak ngerti, terus level berikutnya mulai berani menentukan judul, nah level selanjutnya adalah: saya sudah mulai menyadari keberadaan aktris-aktris cakep! (wew…). Kalau di film ini, aktris cakepnya siapa lagi selain Denise Richards (nominasi Blockbuster Entertainment Award for Favourite Female Newcomer… of course m***erf*cker, what do you expect?)

Denise Richard, please... sekarang dia udah tua, tapi tahun 1997 dia keitung seksi lho
Denise Richards, please… sekarang dia udah tua, tapi tahun 1997 dia keitung seksi lho

Waktu dulu pertama nonton, (sampai akhirnya kemarin nonton lagi…) saya masih memikirkan hal yang sama: film ini sekilas tampak menarik buat anak kecil (manusia lawan alien gitu lho! Ada senjata laser warna-warni (yang kelihatan banget animasinya), ada baju tentara bagus, dll) tapi sebenarnya inti film berbeda dari itu. Kalau didalami, saya masih bisa merinding membayangkan manusia lawan serangga di tataran yang sebenarnya. Karena kalau mau dihitung, disensus… manusia ini kan jelas minoritas, serangga itu banyak dan parahnya kita selalu menganggap serangga itu bodoh, padahal mereka berpikir.

Starship Troopers pun secara verbal menegaskan soal itu; terutama ketika adegan penyerangan pertama pasukan manusia ke planet Klendathu… 100 ribu tentara mati hanya dalam satu jam gara-gara berantem frontal lawan serangga! Jadi para serangga itu berpikir, menyusun strategi, berkomunikasi, mungkin juga mereka menganggap kita ini musuh. Parahnya, kita nggak ngerti apa yang serangga omongin dan kita tenang-tenang saja seolah penguasa tunggal yang nggak ada lawan. Padahal mana tahu mereka lagi merencanakan menyerang manusia pas kita lagi tidur, hayo!  Heu, mungkin saya saja yang sok nganggap ini penting… mungkin juga saya masih berpikir dengan perspektif anak-anak yang bisa nerima semua kejadian aneh dan menganggapnya serius.

Oh iya, kemarin ada yang lucu… karena sebenarnya saya pernah nonton versi full (yang pakai adegan tentara satu kompi mandi bareng-nya nggak disensor!) saya merasa kemarin itu di TV banyak banget adegan dipotong. Terutama adegan berdarah-darah … tapi lucunya, semua itu cuma banyak di awal saja. Begitu sampai tengah sepertinya si editornya sudah bosan (pengen cepet pulang ke rumah!), akhirnya dari pertengahan film ke ending banyak juga tuh adegan darah yang lolos. Lumayan, memang film perang harus begitu, harus banyak gambar korban jatuh, berdarah, luka-luka.

Kalau kebanyakan disensor, itu rasanya seperti nonton film slasher tapi nggak ada darahnya, atau film romance tapi nggak ada adegan seks ciumannya, atau film komedi tapi nggak ada lucunya… jadi rasa genre-nya hilang, terus buat apa ditonton? Sekalian aja nonton film dokumenter… Dasar TV kita itu kadang terlalu paranoid, padahal film ini diputarnya juga tengah malam, adek-adek TK-SD kita juga (mungkin) sudah pada tidur, huh![]

aaaaaa

aaa

Share This:

Related posts:

Quarantine, Film Yang "Agak Nendang"
Awalnya saya dijebak sama temen di kantor, dia bilang punya film bagus dan habis kerja ngajak nonton, akhirnya pas kerjaan beres jam 4 sore, saya bela-belain nggak pulang, nungguin dia yang lagi ada u...
School of Rock vs Garasi (Aspek-Aspek Film Beginian!)
Mungkin kata "beginian" di judul rasanya malah abstrak ya? tapi maksud saya adalah film yang, "beginian"... hehe, ummm... Duh gimana ngejelasinnya ya? Pokoknya kata "beginian&...
Room Mate dan Budaya Kita
Setelah menonton film Room Mate karya sutradara Iran, Mehrdad Farid, saya membuka-buka internet dan menemukan beberapa tulisan yang membahas film ini juga. Tapi mungkin karena film ini tergolong baru ...
Coraline... Bukan Caroline!
Sekarang saya bakal ngomongin salah satu film horor yang bikin betah ditonton. Yah sebenarnya saya ini rada alergi sama film horor, kecuali kalau dijebak teman seperti kasus ini. Namun khusus untuk ...
Yu Aoi, Pembantu yang Cantik! LHO!
Nah, di postingan kemarin saya sempat merasa ngenes karena postingan yang sudah siap upload mendadak hilang tak berbekas! Kali ini setelah lewat beberapa hari dan rasa sudah nggak ngenes lagi, akhirny...
Film Fantasi dan Fiksi Ilmiah Indonesia: Adakah?
Pertanyaan di atas mungkin sulit dijawab. Di Indonesia, genre film fantasi dan fiksi ilmiah kalah populer dibandingkan drama percintaan dan tema horor-mistik. Mungkin lantaran biaya produksi film fant...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

2 thoughts on “Starship Troopers dan Kisah Film Pertama

  • 18/07/2017 at 04:45
    Permalink

    ya ampun Bang, pantesan di biodata singkat tertulis Editor Film, Sutradara..
    lha wong sejak SD udah ke bioskop
    sangar, Bang!

    btw itu Starship-troopers mulai diputer pas huru-hara Indonesia lhoo (13 Mei 1998)

  • SiHendra
    29/07/2017 at 10:57
    Permalink

    iya, ada untungnya juga ngalamin nonton bioskop sejak kecil. Minimal ngerasain bioskop yang harga tiketnya cuma 1500, hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published.