Basic Instinct Itu Menyehatkan Mata

basic-instinctKarena saya lagi nulis novel yang ada unsur psikopatnya, maka saya merasa wajib nyari banyak literatur soal kehidupan seorang psikopat. Kalau dari baca buku sudah, e-book novel soal pembunuhan numpuk di laptop, hampir semua sudah dibaca. Tinggal nyari referensi dari nonton film karena saya selalu percaya secara visual film bisa menggambarkan sebuah karakter dengan baik.

Problemnya, saya nggak suka sama film psikopat. Silence of the Lambs (Jonathan Demme, 1991) nggak pernah tamat nontonnya. Deretan seri film Saw apalagi, baca sinopsisnya saja sudah males! Terus meski bukan soal psikopat… tapi beberapa kali saya coba nonton Cannibal Hollocaust (Ruggero Deodato, 1980) juga nggak pernah bisa tahan lebih dari 10 menit. Begitu juga dengan film slasher lawas macam The Texas Chain Saw Massacre (Tobe Hooper, 1974), atau Friday the 13th (Sean S. Cunningham, 1980). Tapi kedua film ini sih masalahnya karena belum nemu DVD-nya (alesan, kalau nemu juga nggak janji nonton).

Prestasi terbaik saya nonton film berdarah-darah paling pol cuma Bride of Chucky (Ronny Yu, 1998) dan sambungannya Seed of Chucky (Don Mancini, 2004)… itu juga karena kebetulan saja keduanya sedang diputar di TV pas jam prime time (agak gila juga yang punya stasiun TV-nya… masa film Chucky diputer pas prime time?!). Lalu Film I Know What You Did Last Summer (Jim Gillespie, 1997) lebih saya tonton karena ada teman nyewa DVD-nya. Itupun saya tahu dia lebih nyari adegan seksnya daripada menikmati darah-darah yang mengalir. Dia jgua nggak niat banget nonton, dia cuma salah sewa… tadinya mau ambil Scary Movie (Keenen Ivory Wayans, 2000), tapi entah kenapa malah ngambil yang itu!

Sementara film lokal macam Rumah Dara (Mo Brothers, 2010) juga belum nonton. Ini soal selera… saya memang suka nonton film Indonesia, karya anak bangsa itu harus dilestarikan sama bangsanya sendiri… iya sih, itu teorinya. tapi–sekali lagi ini soal selera–saya berpikir ulang empat kali ketika nonton film Indonesia yang penuh kucuran darah atau hantu gentayangan sekalipun sutradaranya terkenal bagus. Makanya buat saya, sinopsis dan trailer itu penting banget.

Tapi intinya sama, karena dasarnya nggak nyaman lihat film yang terlalu banyak darah berceceran, akhirnya saya seolah menjauh dari film-film seperti itu. Nah, tapi kali ini karena saya lagi butuh banget referensi psikopat jadi  terpaksa harus nonton slasher atau thriller apapun. Saya mutar otak… berpikir mencari film yang agak mendingan deh. Akhirnya setelah cari-cari, saya nemu satu film yang memenuhi bisa dua kebutuhan dasar manusia Referensi kerjaan dan pemenuhan nafsu hewani… (aseekkk… uyeee… hihi…)

Film itu adalah Basic Instinct (Paul Verhoeven, 1992), saya nggak nonton yang sambungannya Basic Instinct: Risk Addiction (Michael Caton-Jones, 2006) karena saya selalu percaya kalau film yang paling rame itu adalah film pertama nya saja, atau kalau kata Boy Suresh “Yang namanya sekuel itu 68% hanya tren sesaat.” (Hehe, hello Boy!). Teori ini sebenarnya pernah dipatahkan sekali lewat film Bring It On Again (Damon Santostefano, 2004) yang menurut saya lebih bagus dari Bring It On (Peyton Reed, 2000). Atau Fast Furious 7 (James Wan, 2015) yang menurut saya merupakan seri terbaik ketimbang seri-seri Fast Furious sebelumnya

Oke, balik ke Basic Instinct. Selama ini yang paling santer kedengaran soal film tersebut adalah adegan-adegan seksnya. Tema obrolan yang beredar paling banyak ditemui di dunia maya didominasi oleh apa yang dilakukan Sharon Stone dengan selangkangannya. Dari mulai nge-seks, ganti baju di depan cermin, sampai menggoda para interogator di kantor polisi. yah, saya kira semua opini itu nggak salah-salah banget karena memang dibanding adegan pembunuhannya (yang cuma dua kali) film ini lebih banyak mengandung adegan seks. Baik yang melibatkan Sharon Stone atau Jeanne Tripplehorn.

Tapi ternyata saya menemukan hal lain. Setelah nonton film itu saya menarik kesimpulan bahwa ini adalah film yang wajib ditonton bagi aktor/ aktris manapun yang mau mendalami peran psikopat, atau bagi siapapun yang pengen tahu bagaimana sih kehidupan dan gerak-gerik seorang psikopat. Asumsi ini bisa saja salah, apalagi asumsi itu muncul dari database saya yang sedikit banget. Tapi saya tetap berpegang sama pendapat itu, meski banyak orang yang bilang Hannibal Lecter di Silence of the Lambs, atau Jason Voorhees di Friday the 13th itu lebih meyakinkan. Karena… iya, mungkin Hannibal atau Jason itu lebih meyakinkan secara pembunuhan, secara akting juga bisa diadu lah sama Sharon Stone. Tapi secara fisik mereka nggak menarik! Sedangkan saya pernah baca   pendapat dari Robert Hare (seorang psikolog yang kerjaannya meneliti psikopat), kata dia ciri psikopat adalah terlihat baik dan normal sehingga mereka dapat diterima oleh masyarakat bahkan hingga di lapisan tingkat sosial yang paling tinggi sekalipun, misalnya menduduki suatu jabatan penting dalam pemerintahan.

Nah, itulah yang saya temukan di sosok Catherine Tramell (Sharon Stone). Dia cantik, orang kaya, pinter (punya gelar Psikologi dari Harvard kalau nggak salah), terus mobilnya bagus, perhatian sama orang, gampang banget memanipulasi orang lewat kecantikannya… dan nge-seksnya jago! (mbak Sharon, borgol aku dong mbak… please… 😀 ).

seriusan, itu mata psikopat...
seriusan, itu mata psikopat…

Tapi coba deh ketika nonton film ini, pandang matanya baik-baik. tatap mata saya… konsentrasi… konsentrasi…  maka kita bisa lihat betapa mata itu serem banget, mata yang mengintimidasi, ada aura kejam juga, dari matanya saya bisa menangkap seseorang yang bisa membunuh dengan sadis (18 tusukan dengan pemecah es, misalnya…), lalu dia bersih-bersih, pulang ke rumahnya seperti nggak terjadi apa-apa, tapi kita juga nggak bisa melakukan apa-apa, bahkan buat curiga pun nggak bisa karena akal kita belum-belum sudah berpendapat bahwa masa sih orang secantik ini jadi pembunuh?

Buat saya film ini berhasil memenuhi segala yang diperlukan untuk riset novel,  sekaligus menghabiskan sabun di kamar mandi sebuah tontonan yang menyehatkan mata… hehehe… tapi kalau harus nonton ulang, mungkin akan lebih banyak saya skip ke bagian-bagian yang “pentingnya” saja 😀

 aaa

aaa

Share This:

Related posts:

"The Maiden Heist", Film Komedi Para Senior
Film ini genrenya komedi ringan, disutradarai sama Peter Hewitt, rilis tahun 2009. Dari pertama lihat covernya, saya sudah yakin kalau filmnya jaminan mutu meski nggak tahu juga mutunya setinggi apa, ...
Death Bell: Ini Film Slasher Pendidikan?
Film Death Bell dari Korea ini adalah karya Kim Sang Man (ditulis di kotak DVD) atau Yoon Hong-seung (ditulis di situs resminya) yang rilis tahun 2008. Film ini sebenarnya termasuk ke genre slasher. S...
Room Mate dan Budaya Kita
Setelah menonton film Room Mate karya sutradara Iran, Mehrdad Farid, saya membuka-buka internet dan menemukan beberapa tulisan yang membahas film ini juga. Tapi mungkin karena film ini tergolong baru ...
Menanti Islami Asli, Bukan Adaptasi
Dalam sebuah wawancara, Joko Anwar pernah mengatakan bahwa dalam membuat film, sutradara di Indonesia terbagi dua yaitu sutradara for hire dan sutradara yang memiliki something to say. Sebenarnya “Gel...
Michelle Rodriguez, Serem tapi Seksi
Kapan ya saya pertama kali lihat dia? Oh…  kalau nggak salah pas nonton Resident Evil (Paul W.S. Anderson, 2002) itu seri yang pertama, seri yang paling rame meski saya agak kecewa karena nggak sesu...
Tomorrow I Will Date With Yesterday's You
Sudah lama saya merasa tidak ingin menulis tentang film. Sejak memutuskan untuk pensiun dari dunia film dan konsen di dunia menulis, intensitas saya menonton film menurun drastis. Apalagi memang dulu ...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.