Coraline… Bukan Caroline!

Coraline3

Sekarang saya bakal ngomongin salah satu film horor yang bikin betah ditonton. Yah sebenarnya saya ini rada alergi sama film horor, kecuali kalau dijebak teman seperti kasus ini. Namun khusus untuk Coraline sebenarnya saya baru nyadar bahwa kategori film Coraline ber-genre horor itu pas sampai endingnya. Hehe… jadi sangat rapihnya film ini membungkus nuansa horor sampai penonton nggak terlalu merasa, memang sih filmnya mencekam tapi terasanya tetap menyenangkan.

Film ini adalah karya Henry Selick, dibuat tahun 2009. Diangkat dari novel karya Neil Gaiman yang ditulis tahun 2002, dan menurut wikipedia film ini adalah stop-motion 3D. Wew, saya sempat ngira ini film animasi komputer gitu. Ngerti kan? yang dibikin pake software gitu lah… ternyata stop motion! Oh iya, pengisi suara Coraline adalah salah satu aktris favorit saya juga: Dakota Fanning 😀

Menurut saya: cerita di film ini sangat-sangat-sangat sederhana, beneran… kalau yang nontonnya mencoba berpikir seperti anak kecil umur enam tahun, maka saya jamin pasti bisa mengikuti film ini dengan lancar dan nggak banyak pertanyaan. Problemnya, orang-orang seperti kita ini dikit-dikit suka bertanya pake logika, kok gitu sih? kok gini sih? kok nggak begitu sih? dan seterusnya… padahal Coraline (bukan Caroline) adalah anak sebelas tahun yang pola pikirnya masih kaya anak kecil, tepatnya seorang anak kecil yang nggak banyak pertanyaan meski di depan mukanya berdiri ibunya sendiri tapi matanya terbuat dari kancing!

Wew… jadi garis besar plotnya sih ada anak namanya Siti Maryam (bukan! tentu saja Coraline!) yang baru pindah rumah, terus dia nemu lubang yang menghubungkan dia sama sisi lain rumahnya, pas dia masuk ternyata tempat itu 80% copy paste dari rumahnya yang asli. Beneran mirip kecuali beberapa sisi ruangan dan ayah ibunya. Jadi di sana itu ada juga copy paste dari sosok ayah dan ibunya,  perbedaannya ada dua:

  • Pertama.. Karakter mereka berkebalikan sama ortu Coraline yang asli. kalau yang asli itu gila kerja, males masak, dan banyak marah-marah tapi yang copy-an nya ini ternyata berkarakter lembut, suka masak makanan yang enak, suka main musik… pokoknya ortu dambaan Coraline banget
  • Yang kedua… mata mereka terbuat dari kancing!

Wew…  kalau penasaran silahkan nonton sendiri petualangan Coraline ini, saya jamin menyenangkan! 😀

Seperti yang saya bilang tadi, ini adalah film horor yang menyenangkan ditonton.  Mungkin memang tidak lepas dari grafik novelnya yang cerdas, tapi tetap saja kalau pembuat filmnya gagal menerjemahkan berbagai warna, gerak, dan suara/musik… maka ini film bakal mati jiwanya. Tapi saya kira nuansa yang diinginkan Gaiman bisa terpapar dengan baik lewat persepsi Selick. Ini yang bikin saya puas meski belum baca novelnya.[]

aaa

aaa

 

Share This:

Related posts:

Prekuel, Sekuel dan Spin Off
Di sebuah blog film  saya membaca tulisan begini: "...maka hadirlah “Terminator Salvation” yang bisa dibilang sebagai sekuel ke-4 ... menyusul “X-Men Origins: Wolverine,” “Star Trek” dan “Ange...
Menanti Islami Asli, Bukan Adaptasi
Dalam sebuah wawancara, Joko Anwar pernah mengatakan bahwa dalam membuat film, sutradara di Indonesia terbagi dua yaitu sutradara for hire dan sutradara yang memiliki something to say. Sebenarnya “Gel...
Rumah Putih #5: Ketika Peranan Menjadi Diri
Seberapa dalamkah sebuah peran merasuki hidup seseorang? “Beberapa hari setelah usai syuting, aku masih merasa diriku ini orang lain. Butuh waktu lama bagiku untuk keluar dari karakter yang aku pera...
Subang: Bicara Film & Kehujanan
Subang adalah sebuah tempat yang sejak SD gue definisikan sebagai: daerah dengan sungai paling jernih dan ditempuh sambil menikmati pemandangan yang sempurna. Itu memori gue tentang Subang, yang kemar...
Goodbye Dragon Inn
Bulan Desember ini saya memang sudah rencana untuk menonton film-film dengan ritme yang lambat. Tidak ada alasan khusus. Euh... ada sih... yaitu untuk lebih menghayati kesendirian, kesepian, dan kerin...
Menguak Korelasi Triangle Composition dan Majas Pars Pro Toto dalam A Letter For Mommy
Setiap akan mengulas sebuah film, saya selalu berpegang pada kata-kata Ekky Imanjaya. Dalam sebuah wawancara yang termuat di cinemapoetica (16/02/2016) ia berkata bahwa setiap film memiliki yang naman...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.