Catatan The Raid: Sebaris Bersama Alay

the-raid-1-1-586

Sebenarnya bukan pilihan saya untuk nonton sendirian ke bioskop, memang rasanya lebih nyaman kalau bareng-bareng biar rame. Tapi kemarin saya terpaksa nonton The Raid sendirian di Ciwalk XXI, soalnya memang saya mau ngisi kuliah di Unpad, yang mana salah satu materinya adalah tentang film itu tapi saya belum nonton, dan kebetulan memang ga ada yang bisa diajak nonton.

Maka jadilah saya datang ke bioskop dengan kondisi seperti jomblo sejati, seseorang yang nggak laku, dan atau orang yang lagi LDR… Euh sebenarnya untung juga datang sendirian soalnya… buseet, cewek di sana ternyata bening-bening dan saya bisa cuci mata, tapi semua cewek itu nggak ada yang sendirian. Kalau bukan sama monyetnya cowoknya, pasti lagi berkelompok. Ugh, kenapa sih cewek senengnya berkelompok terus?

Oke, saya nggak akan ngomongin cewek, lagipula saya udah punya cewek maaf ya buat yang ngeceng. Nah, karena nonton sendirian maka normalnya saya harus nyari bangku yang sendirian, tapi berhubung ini bukan angkot yang punya satu bangku di belakang supir maka saya menyerahkan posisi duduk pada nasib, tepatnya pada sisa kursi yang tersisa. Begitu beli tiket, ternyata barisan tengah sudah penuh! (Wow, ternyata pada ngerti semua ya kalau posisi di tengah itu lebih enak buat nonton, minimal kita dapat sound yang seimbang, tapi nggak bisa buat mojok karena buat mojok itu kita mesti duduk di.. pojok lah!)

Akhirnya saya ngeliat ada satu kursi kosong di E 15, kebetulan dengan posisi itu saya berasumsi bahwa orang di sebelah saya adalah jomblo juga. Jadi minimal kalau satu orang jomblo duduk di sebelah satu orang jomblo, mungkin aja keduanya bisa jadian! (sebenarnya saya berharap Nikita Willy atau Seo Hyun mendadak duduk di sana, kalau yang lain sih nggak deh). Tapi ternyata kenyataan nggak seperti yang saya bayangkan, hihi… ternyata om-om yang duduk di sana. Ya sudahlah, kebetulan saya lagi berminat menjalin hubungan serius sama siapapun apalagi kalau bentuknya sejenis… jadi saya mau konsentrasi nonton aja.

Tapi ternyata hari itu saya nggak bisa terlalu enjoy sama filmnya, maksudnya bukan gara-gara masalah di layar. Soalnya, apapun yang tampil di layar itu bagus. Tapi masalahnya justru ada di kursi sebelah! Bukan kursi om-om tadi tadi, tapi dua kursi di sisi kanan. Ini pertanya:

dadada

aaa

Jadi di sana duduklah dua orang… alay! Cewek sama cowok (saya kira mereka udah jadian). Tampangnya nggak terlalu alay sih tapi kelakuannya yang alay! Sepanjang film mereka melakukan perbuatan yang haram jahanam. Apakah mereka kissing? Tidak! Hand job? Blow job? Or… any job? Tidak juga! (euh, andaikan segala job itu yang mereka lakukan justru saya nggak bakalan terganggu). Jadi inilah yang mereka lakukan:

aaa

1. Ngobrol sepanjang film. Ini mengganggu banget, sudah jelas di awal pemutaran film ada tulisan “Dilarang berbicara selama film berlangsung” ini jelas-jelas mereka ngobrol dan ketawa-ketawa nggak jelas. Jadi wajar dong saya terganggu, kalau mereka ketawa di bagian yang lucu ya nggak apa-apa lah, tapi—salah satu part dimana mereka ketawa nggak pas—kalau di bagian opening udah ketawa-ketawa ya malah aneh. Soalnya di opening itu gambar Iko Uwais lagi shalat. Oh, jadi shalat itu lucu ya? Buset dah!

2. Ngobrol hal-hal yang bodoh sepanjang film. Ini dua kali lipat lebih mengganggu daripada sekedar ngobrol. Salah satu dialog bodoh mereka adalah ketika gambar Iko Uwais muncul di layar, lantas si cowok bertanya “Itu yang merantau ya?” saya ngerti maksudnya, si cowok nanya apakah Iko adalah aktor film Merantau atau bukan? Ternyata si cewek menjawab dengan nada heran “Nggak tahu, merantau kemana?” DOH! *nepok jidat tetangga!

3. Berantem. Percaya atau tidak inilah salah satu kelakuan mereka, saya baru ngerti kenapa banyak perkosaan terjadi karena si pelaku abis nonton film porno, ternyata jenis tontonan berimbas pada penontonnya. Buktinya ini pas nonton film laga mereka ternyata ikut berantem! Haha… nggak sih, jadi masalahnya (terjadi setiap adegan kepala hancur) si cewek marah-marah sambil nutupin mukanya pake tas dan ngomong: “Ih, nonton film beginian, nggak bilang dulu! kirain film apaan!”, “Males gue nonton film begini!”, “Kenapa sih ngajaknya ke film kaya begini?” dan berbagai kalimat sejenis yang menyatakan kalau si cewek nggak enjoy sama The Raid. Si cowok yang merasa sudah ngabisin duit tabungannya buat nraktir nonton pasti kesel lah, pada satu kesempatan dia balik nanya dan pertanyaan dia menimbulkan sebuah dialog bodoh seperti saya bahas di nomor sebelumnya

Cowok: Ya memang ini film begini, kamu kira film apa?”
Cewek: Kirain drama romance gitu
Saya: *ngegragotin kursi bioskop! (makanya cari dulu info film sebelum beli tiket!)

4. Kursi Goyang. Saya juga baru tahu kalau The Raid adalah film 3D. Jadi setiap kali di layar ada adegan orang berantem, kursi saya bergetar! Karena tahu bahwa ini bukan film 3D, maka gantian saya berpikir “Asik juga ini kursi ada efek vibranya”, jadi inget stik PS! Tapi lama-lama saya merasa aneh karena gerakannya sering nggak sinkron sama gambar di layar. Akhirnya nengok ke kanan dan tahu asal-usul masalahnya, ternyata setiap kali adegan berantem, si cowok ngikutin adegan itu sambil tetap duduk di kursi. Asumsi saya ada tiga: Pertama dia latah, kedua … dia epilepsi, atau kemungkinan ketiga… dia gila!

aaa

Tapi apapun yang mereka lakukan, sebenarnya nggak bisa benar-benar mengalihkan perhatian saya dari layar. Soalnya memang filmnya bisa bikin kita nggak inget bernafas, malah sepertinya nggak ada ruang buat itu.

Satu aja sih yang mesti saya inget, hati-hati kalau duduk di bioskop, jangan sampai di sebelah kita duduk alay yang akan melakukan hal-hal aneh… ini serius![]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Pengalaman Baru: Ngisi Materi OPS
Kemaren kan saya posting tulisan soal kena cacar air, nah sebenarnya pas banget lagi demam-demamnya (tapi si cacar belum keluar, tepat banget sehari sebelum bintil pertama muncul di muka) saya dapat u...
Meneliti Industri Film Porno (Amerika)
Tidak bisa dipungkiri bahwa film porno itu ada, film ini merupakan varian dari romantic films (yang di dalamnya juga ada kategori semi-porno, sexual films, dan erotic films), dan termasuk ke sebuah ge...
Coraline... Bukan Caroline!
Sekarang saya bakal ngomongin salah satu film horor yang bikin betah ditonton. Yah sebenarnya saya ini rada alergi sama film horor, kecuali kalau dijebak teman seperti kasus ini. Namun khusus untuk ...
Jung Ryeo Won, The Moon Lover
Ah, kacau banget gue... lama ga ngupdate ini karena banyak alasan teknis yang ga penting (semacam, ngejar alien yang celana dalemnya ketinggalan di kamar mandi gue, terus gue ngupil dan telunjuk gue n...
Kronik Sebuah Kota Tuhan
Dua hari yang lalu, selang-seling mengurus pekerjaan, saya untuk kesekian kalinya menonton film City of God (Fernando Meirelles, 2002), sebuah film Brasil yang bercerita tentang realita kehidupan jala...
Lewat Asimilasi, Menuju Koperasi yang Tak Mati-Mati
Ada kabar yang menyebutkan bahwa tahun 2016 kemarin, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah akan membubarkan 61 ribu Koperasi di seluruh Indonesia.[1] Ah, semoga ada yang benar-benar melihat b...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.