500 Hari yang Menyebalkan

500_days_of_summer_poster_by_leknives-d37na76Setelah nonton film 500 Days of Summer (Marc Webb, 2009) temen saya ngirim SMS begini:

“Every young single girl is f*****g suck! Thanks GOD gue udah merried!”…

Haha, oke saya akui SMS nya agak provokatif, dan agak memprovokasi, dan saya juga nggak bisa terlalu mempersalahkan dia karena sedikit banyak saya juga merasakan hal yang sama setelah nonton film ini.

Ow, memangnya ini film kenapa? ngg, sebenarnya filmnya nggak salah… beneran deh, dari awal saya juga udah suka sama tagline nya yang menggelitik “This is not a love story, this is a story about love.” Terus dari menit pertama nonton juga saya udah kagum banget sama akting-akting pemainnya. Ditambah lagi ada dua aktris yang saya suka: Chloë Moretz dan Zooey Deschanel, wew…

Soal dua aktris ini nanti aja saya jelasin kenapa bisa suka, tapi intinya saya pertama kali ngeliat Chloe di film Kick Ass (Matheww Vaughn, 2010)… eh, beneran… saya kebalik nontonnya, film 2010 dulu baru 2009. Sementara Zooey udah mencuri perhatian saya di film Yes Man (Peyton Reed, 2008). Tahun-tahun ketika saya masih suka ngoleksi film-film Jim Carrey (karena menurut saya dia masih lucu.)

Oke, balik ke film ini, buat saya akting natural dari Zooey (sekaligus suara nya yang keren banget kalau nyanyi, memang dia penyanyi kan?) justru yang bikin karakternya hidup banget, dan akibatnya setiap cowok yang nonton pasti akan sepakat kalau: Zooey menjelma jadi cewek cantik yang menyebalkan bernama Summer Finn! Sementara beberapa temen cewek yang saya tanya pendapatnya berkomentar dengan wajah lurus “Hmm, ya memang cewek wajar kok bersikap begitu kalau menghadapi cowok.” Maksudnya bukan bersikap menyebalkan, tapi bersikap seperti Summer “f*****g” Finn. (Ah, saya udah mulai terprovokasi nih)

Sikap seperti apa? hmm… bayangkan seorang cowok, jatuh cinta sama seorang cewek, cewek itu ngerespon, mereka jalan, nonton bareng, main rumah-rumahan, dua kali berhubungan seks (setidaknya itu yang kelihatan di film)… salah satunya mereka sebut shower sex (hihihi, kapan-kapan pengen nyoba ah!), sampai si cowok (wajar banget) sudah menaruh harapan, bahan sudah beranggapan bahwa mereka memang pacaran. Tapi ternyata bahkan setelah melalui semuanya cewek itu tetap berpendapat “We’re just friend“, ya, dengan dinginnya tokoh Summer berkata pada tokoh Tom “You weren’t wrong, Tom. You were just wrong about me.”

500-days-of-summer-fashion-glamour-love-quote-text-Favim.com-65355_original
yea..yea.. Summer, whatever!

Ngadepin cewek kaya gitu kan enaknya si cowok noyor jidat si cewek terus ngambil traktor dan si cewek digiles pake traktor bolak balik sampe nggak berbentuk lalu pergi dan jangan nengok ke belakang, cari cewek lain dan… get a life! Tapi itu tidak dilakukan oleh Tom… poor Tom.

Buat yang penasaran si Tom ngapain silahkan tonton sendiri deh filmnya, dan buat cowok silahkan lupakan dulu kisah cinta terburuk kalian karena yang di film ini pasti lebih buruk dari apa yang pernah kalian alami. Asal tahu saja, Tom sendiri sampai berkata begini tentang Summer: Either she’s an evil, emotionless, miserable human being, or… she’s a robot.”  (Saya kira, Summer Finn itu gabungan semuanya Tom… percaya sama gue!)

Terakhir, dengan nilai cukup tinggi: 7,9 di imdb saya kira film ini cukup layak untuk ditonton. Sudah, itu aja []

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Meneliti Industri Film Porno (Amerika)
Tidak bisa dipungkiri bahwa film porno itu ada, film ini merupakan varian dari romantic films (yang di dalamnya juga ada kategori semi-porno, sexual films, dan erotic films), dan termasuk ke sebuah ge...
Meneliti Industri Film Porno (Asia & Indonesia)
Tanpa bermaksud mengesampingkan negara lain, bila bicara film porno Asia maka negara Jepang lah yang perlu dikedepankan. Ternyata era industri film porno Jepang (biasa disebut JAV atau Japan Adult Vid...
Yu Aoi, Pembantu yang Cantik! LHO!
Nah, di postingan kemarin saya sempat merasa ngenes karena postingan yang sudah siap upload mendadak hilang tak berbekas! Kali ini setelah lewat beberapa hari dan rasa sudah nggak ngenes lagi, akhirny...
Chef: Hidup Kita di Tangan Kita
Saya baru selesai nonton film Chef (Jon Favreau, 2014), inti ceritanya soal seorang juru masak profesional di sebuah restoran ternama yang mengalami konflik hebat dengan seorang kritikus makanan—dan t...
Perjalanan Waktu di Artistik Grand Budapest
Pagi ini, menonton film The Grand Budapest Hotel (Wes Anderson, 2014) salah satu dari tiga film pemenang Oscar 2015 yang ingin saya tonton selain Birdman (Alejandro G Iñárritu, 2014) dan Whiplash (Dam...
H-95: Apakah Kita Menulis Untuk Difilmkan?
Di tulisan sebelumnya saya membahas tentang para penulis baru yang berkiblat pada senior. Mungkin tulisan yang sekarang ini ada hubungannya, mungkin juga tidak, tapi kan tujuan saya menulis 100 hari i...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.