Room Mate dan Budaya Kita

Setelah menonton film Room Mate karya sutradara Iran, Mehrdad Farid, saya membuka-buka internet dan menemukan beberapa tulisan yang membahas film ini juga. Tapi mungkin karena film ini tergolong baru masuk ke Indonesia maka sebagian besar masih berupa review. Tapi saya agak terkejut ketika membaca banyak tulisan yang menyebutkan film ini bercerita tentang kumpul kebo ala Iran. Padahal kalau kita menontonnya, akan sangat jauh sekali definisi kumpul kebo dengan apa yang dihadirkan dalam Room Mate.

Setelah lama dipikirkan, saya bisa memaklumi mengapa bisa muncul persepsi itu, sebab kalau dilihat dalam perspektif budaya komponen perfilman Indonesia (artinya disini ada komponen pembuat dan penikmat), apa yang bisa diharapkan dari sebuah film yang bercerita tentang dua orang yang tidak menikah, hidup dalam satu rumah, kecuali kegiatan kumpul kebo?

Padahal lebih jauh dari itu, film ini adalah salah satu dari sekian jenis film yang berani memotret realita kehidupan. Lewat film ini juga penonton disuguhi perspektif lain dari negeri Iran yang selama ini dikenal dengan film-film yang muram, penuh perang dan penderitaan. Dalam film ini juga terbersit semacam pengakuan dari orang Iran terhadap kondisi sosial yang ada di kota-kota besar di Iran, khususnya Teheran, tempat peredaran narkoba dan prostitusi juga ada di sana, meskipun sebelumnya ditutup-tutupi.

Kembali pada kata kumpul kebo tadi, apa yang menyebabkan kata kumpul kebo menjadi tidak pantas dijadikan predikat? Karena sutradara Merdah Farid membuat film ini dengan disiplin dan berpegang pada prinsip-prinsip kesusilaan sebagaimana yang lazim kita temui pada film-film Iran. Misalnya saja di sepanjang film, kita tak melihat Mahsa (Bita Saharkhiz) dan Jamshid (Ali Reza) melakukan kontak fisik, walau hanya berjabat tangan. Pemeran Mahsa juga selalu berkerudung dalam setiap scene walau beberapa adegan berlangsung di kamar tidur dan ruang ganti. Jelas bahwa sutradaranya bekerja dengan terampil untuk membuat adegan-adegan ini tampak alamiah. Apalagi dengan label komedi, penonton pasti berharap bisa tertawa ketika menonton, dan keinginan itu rupanya bisa dipenuhi oleh sang sutradara.

pictures-of--hamkhaneh-movie_7323378cLalu ada satu hal yang paling membuat saya memujinya, film ini berani tampil dengan memadukan gaya hidup “mayoritas” pemuda masa kini, tapi tetap bisa menampilkan budaya Iran dan tidak terjebak pada standarisasi film remaja. Bukankah ini bagus? Artinya seperti apapun konflik yang dibuat, seorang filmaker tidak boleh lupa pada akar budaya bangsanya.

Shinobu Kitayama, Profesor di Universitas Michigan, menganalogikan peran budaya bagi manusia seperti peran air bagi ikan. Tanpa air ikan mati, manusia pun akan menjadi bukan manusia tanpa budaya. Sebagaimana air menentukan kehidupan ikan, budaya menentukan seperti apa kehidupan yang dijalani manusia. Air yang berbeda akan membuat ikan berperilaku beda. Demikian juga budaya yang berbeda akan membuat manusia berbeda.

Artinya apapun yang ditunjukkan sebuah bangsa bisa jadi itu adalah budaya bangsa itu yang sesungguhnya, ketika sudah sampai pada kesimpulan ini, maka seandainya sebuah bangsa sedang memiliki budaya yang “memalukan”, sebenarnya tidak ada gunanya menambal budaya yang “memalukan” itu dengan mengadopsi budaya bangsa lain

Tapi bila kita perspektifkan pada lazimnya film Indonesia yang bergenre “remaja” saat ini, sering kita lihat gaya hidup yang diadopsi adalah gaya hidup dari luar, lalu kemana budaya Indonesia? Film-film remaja di Indonesia biasanya cenderung memakai cetakan yang sama hingga tidak memberikan hal yang baru, padahal Indonesia sungguh memiliki budaya yang unik dan tidak bisa ditiru. Akibatnya para komponen perfilman Indonesia cenderung memotret satu konflik dengan gaya yang “sudah biasa”, misalnya seperti yang sudah di bahas di atas tadi, kita secara refleks memotret film Room Mate dengan kata “Kumpul kebo”.

Dari pengamatan ini, apa yang bisa disimpulkan? Rupanya komponen perfilman Indoensia sedang terjebak pada budaya flat, budaya yang hanya berdiri di satu sisi, budaya yang terlalu kaku, dan budaya yang tidak berani bicara realita bangsa. Padahal fungsi sebuah film sebagai sebentuk karya antara lain adalah jujur dan tidak menyembunyikan realita.

Baiklah, mungkin saja ada yang lantas mengajukan argumen dengan alasan selera pasar. Padahal faktanya, pemilihan film yang memiliki akar budaya yang kuat tidak selalu berarti film itu tidak akan laku di pasaran, kalau bicara film-film di luar negeri, banyak yang sudah berani mengusung realita tapi tetap diminati. Misalnya saja film seperti I Not Stupid, In the Valley of Elah, Children of Heaven, Baran, atau Osama. Sementara di dalam negeri, siapa yang mau meyangkal kejujuran dalam film Laskar Pelangi, Denias, Arisan!, Berbagi Suami atau Daun di Atas Bantal.

Jadi bila sekarang kita semua menonton film Room Mate, semoga ini bisa jadi pembelajaran bahwa akar budaya sebuah bangsa tidak boleh dilupakan dalam produksi sebuah film. Beranilah membuat film yang jujur pada realita budaya yang sedang kita jalani, meski kita harus jujur bahwa kondisi bangsa kita sedang memalukan, tapi bolehlah kita semua berharap budaya-budaya yang memalukan ini hanyalah sesuatu titik yang harus kita lewati untuk mencapai kebudayaan yang lebih baik lagi.[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Superhero Indonesia Go Internasional
Sepanjang tahun 2010-2011, bioskop kita banyak diserbu sama film-film superhero!  misalnya saja Kickass (Matthew Vaughn, 2010), Iron Man 2 (Jon Favreau, 2010), Jonah Hex (Jimmy Hayward, 2010), The Gre...
Buried, Film Panjang dengan Satu Aktor!
Wew, satu kata buat film ini: Briliant! Serius, tadinya saya merasa agak pesimis ketika ada teman yang menyarankan  nonton. Itu karena saya berpikir: apa mungkin ada film yang enak ditonton 90 menit, ...
2012: Indonesia Perlu New Wave Lagi
Sebenarnya, new wave adalah sebuah istilah ciptaan media sebagai sebutan pada sebuah kegiatan pembaharuan dunia perfilman di suatu negara. Ciri-cirinya sama yaitu pertama, selama beberapa tahun perfi...
Subang: Bicara Film & Kehujanan
Subang adalah sebuah tempat yang sejak SD gue definisikan sebagai: daerah dengan sungai paling jernih dan ditempuh sambil menikmati pemandangan yang sempurna. Itu memori gue tentang Subang, yang kemar...
Chef: Hidup Kita di Tangan Kita
Saya baru selesai nonton film Chef (Jon Favreau, 2014), inti ceritanya soal seorang juru masak profesional di sebuah restoran ternama yang mengalami konflik hebat dengan seorang kritikus makanan—dan t...
Goodbye Dragon Inn
Bulan Desember ini saya memang sudah rencana untuk menonton film-film dengan ritme yang lambat. Tidak ada alasan khusus. Euh... ada sih... yaitu untuk lebih menghayati kesendirian, kesepian, dan kerin...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.