Meneliti Industri Film Porno (Asia & Indonesia)

fb807faf2f9c7829d78b75b1427c2dd5Tanpa bermaksud mengesampingkan negara lain, bila bicara film porno Asia maka negara Jepang lah yang perlu dikedepankan. Ternyata era industri film porno Jepang (biasa disebut JAV atau Japan Adult Video) diawali pada tahun 1960-an. Ketika itu sebagian besar penonton dewasa di Jepang beralih menonton siaran televisi Amerika hingga televisi Jepang kurang diminati. Untuk melawan kondisi ini, pada tahun 1971 stasiun televisi Toei membuat serial yang berjudul “Pinky Violence” sebagai film dewasa. Disusul stasiun televisi Nikkatsu yang meluncurkan film seri “Apartement Wife” sebagai film roman porno softcore. Film ini ternyata bisa menyelamatkan Nikkatsu dari kebangkrutan.

Namun produksi film-film porno Jepang baru benar-benar dimulai tahun 1980 dengan beredarnya AV (artinya tidak lagi mengandalkan stasiun televisi). Bintang yang terkenal di masa itu antara lain Kate Asabuki, Eri Kikuchi, dan Keiko Nakazawa.

Yang menarik, di Jepang batasan antara artis AV dan TV sudah tidak jelas. Seorang artis bisa saja sudah mapan di dunia TV tapi lalu terjun ke AV, begitupun sebaliknya. Untuk kasus terakhir, contoh terdekat adalah bintang porno Takako Kitahara yang terjun ke AV di tahun 2005, tapi tahun 2008 dia memutuskan untuk kembali ke serial TV.

Perkembangan industri AV Jepang sangat pesat, bahkan sudah mengalahkan Amerika. Menurut data statistik, setiap tahunnya ratusan bintang baru AV bermunculan. Belum lagi jika dihitung jumlah uang, diperkirakan dalam setahun terjadi perputaran uang sebesar 400 milyar yen per tahun dengan rata-rata produksi 11 film per hari. Dengan angka-angka tidak heran pada tahun 1994 jumlah  JAV sudah mencapai 14.000 judul, sementara film porno Amerika baru mencapai 2500.

Maka dari itu, AV sudah menempatkan diri sebagai sumber acuan film porno dunia. Antara lain dengan membuat beberapa pedoman yang jadi pegangan sebagian besar film porno. Misalnya kategori aktris. Aktris-aktris AV (dan artis porno di seluruh dunia pada umumnya) secara garis besar terbagi menjadi dua yaitu Busty (memulai debut saat dewasa) contohnya Miki Sawaguchi dan Anna Ohura, lalu kategori yang kedua adalah Mature (memulai debut saat masih muda) contohnya Asuka Yuki dan Aki Tomosaki. Selain itu AV juga membuat beberapa genre yang jadi acuan setiap film porno, antara lain : Bukkake, Gang Bang, Lotion Play, Gokkun, atau Japanese Bondage.

aaa

Film Porno Indonesia
Industri film porno Indonesia sepertinya belum ada (yang legal), meskipun beberapa pihak percaya ada saja PH yang membuatnya, meski tidak terang-terangan. Menurut isu-isu yang beredar, perekrutan pemainnya biasa menggunakan cara langsung, atau lewat manager artis. Yang dibidiknya pun adalah model/artis lokal yang belum terkenal. Ini bisa jadi logis karena rasanya di masa sekarang ini, tidak sulit mencari anak muda yang mau melakukan segalanya demi uang dan popularitas.

Tapi kondisi ini tidak berarti Indonesia melupakan “kontribusi” nya di dunia film porno. Tercatat hingga saat ini ada tiga orang kelahiran Indonesia yang memiliki profesi sebagai artis porno Amerika. Salah satunya adalah Jade Marcella, yang sebenarnya kelahiran Tegal (Meskipun dia selalu menulis lahir di Hawaii), dan memiliki orang tua asli Indonesia.

Ketika ditanya, tujuan utama Jade pindah ke Amerika karena ingin mengadu nasib, tapi ia malah terseret ke industri film porno Hollywood. Jejaknya diikuti oleh adiknya sendiri yaitu Nyomi Marcella. Menurut kabar, kakak beradik Marcella ini telah membintangi lebih dari 100 judul film porno

Bintang film porno lain yang juga perlu di sebutkan ialah, Christina Hadiwijaya. Salah satu filmnya berjudul “Married People, Single Sex: Urban Adultery” dimana dia berperan sebagai tokoh Allison. Sebenarnya hal ini masih bisa diperdebatkan mengingat menurut Christina sendiri, filmnya itu bukan dikategorikan film porno karena film mendapat rated “R” (bukan kategori X)

Apapun yang dia sebutkan, tidak bisa dipungkiri Indonesia sudah mampu “mengekspor” bintang-bintang porno, kita berharap semoga ini tidak berlanjut… karena… rasanya tidak penting, dan jelas tidak berefek pada kualitas perfilman nasional.

Betul? 😀

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Dosen Gadungan di UNPAD!
Akhirnya saya bisa merasakan juga jadi dosen. Tepatnya dosen tamu di Fakultas Seni Budaya Universitas Padjajaran. padahal nggak pernah nyangka, mimpi aja nggak berani... soalnya saya kemana-mana cum...
Agni, the Loveable...
Sudah lama nggak ngupdate cewek of the week, alasan pertama karena migrasi server, alasan kedua karena lupa terus! Aduh ini otak memang sudah mendekati pikun. Padahal harusnya ini saya update seming...
Rumah Putih #4: Ketika Rok Prisia Tersingkap
Dapatkah seorang aktris menafikan kehadiran orang lain ketika dia dituntut untuk merasa sendiri? Prisia Nasution akan menjawab, “Tidak.” Bermain dalam Gala Sinema SCTV “Cinta tak Pernah Salah”, Pris...
Mbak Laura, Kapan Main Ke Rumah?
Beneran, beberapa waktu lalu di Kaskus sempat muncul beberapa thread ketika orang ini nikah. Tapi gue nggak buka thread-thread tersebut, males aja ngelitin gosip artis. Tapi efeknya ternyata, gue jadi...
Chef: Hidup Kita di Tangan Kita
Saya baru selesai nonton film Chef (Jon Favreau, 2014), inti ceritanya soal seorang juru masak profesional di sebuah restoran ternama yang mengalami konflik hebat dengan seorang kritikus makanan—dan t...
Pagi Ini, Iman Saya Sedikit Goyah
Pagi ini, saya mendapat info kalau lagi- lagi ada satu novel milik teman saya yang difilmkan. Setelah Desi Puspitasari yang “nyaris” sama-sama tumbuh bareng di dunia menulis ternyata bisa (duluan) mer...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

One thought on “Meneliti Industri Film Porno (Asia & Indonesia)

  • 09/02/2013 at 02:31
    Permalink

    Wah..jangan2 Maria Ozawa juga orang jawa ya ? Ozawa=Orang Z(j)awa ..hihihii…sebagai orang jawa saya cuma bisa ngurut dada saja…hiks hiks

Leave a Reply

Your email address will not be published.