Meneliti Industri Film Porno (Amerika)

Mona_the_Virgin_NymphTidak bisa dipungkiri bahwa film porno itu ada, film ini merupakan varian dari romantic films (yang di dalamnya juga ada kategori semi-porno, sexual films, dan erotic films), dan termasuk ke sebuah genre yang perlu diperhitungkan, kenapa? Karena film porno adalah salah kategori film yang: contoh-contoh filmnya banyak, aktris-aktor nya bisa didata dengan jelas (artinya ter-manage dengan rapi), perusahaan pembuat filmya ada dan di beberapa negara bahkan legal, lalu film-film seperti ini pun memiliki penggemar tersendiri.

Dengan fakta-fakta seperti itu, tidak ada salahnya bila kita mempelajari genre film ini dengan lebih teliti (meski saya tidak menganjurkan untuk menonton filmnya, atau mencari-cari foto aktrisnya di internet. Alasannya? Banyak! Cari sendiri… 😀 ).

Oke, kita mulai. Film porno memiliki sejarah yang cukup panjang, Menurut Patrick Robertson dalam bukunya “Film Facts”, film porno yang paling awal (artinya tanggalnya diketahui dengan jelas) adalah film berjudul “A L’Ecu d’Or Ou La Bonne Auberge“, yang dibuat di Prancis pada tahun 1908. Ceritanya tentang seorang tentara yang menjalin hubungan dengan seorang perempuan pelayan di sebuah penginapan. Lalu ada lagi film “El Satario” dari Argentina mungkin dibuat antara periode 1907 dan 1912.

Dalam bukunya itu pula, Robertson menjelaskan bahwa sebuah film bisa menunjukkan bagaimana konvensi-konvensi porno mula-mula ditetapkan, apalagi sejarah film porno bisa dipelajari dengan baik karena dokumentasinya tersimpan dengan rapi. Sebagai catatan saja, film-film porno tertua yang masih ada tersimpan di Kinsey Collection, Amerika.

aaa

Industri Film Porno Amerika
Pada awalnya, film porno banyak dibuat dengan sembunyi-sembunyi hingga keterangan tentang film itu sulit diperoleh. Bahkan beberapa film porno awal tidak mempunyai plot cerita yang jelas. Sampai pada tahun 1970, muncul film berdurasi 59 menit yang berjudul “Mona” (juga dikenal sebagai Mona the Virgin Nymph) yang diakui sebagai film porno pertama yang eksplisit, mempunyai plot, dan diedarkan di bioskop. Film ini dibintangi oleh Bill Osco dan Howard Ziehm.

Selanjutnya, pada tahun 1971 muncul film “The Boys in the Sand” sebagai film porno pertama yang menggambarkan adegan porno homoseksual, mencantumkan nama-nama pemain dan krunya di layar (meskipun umumnya menggunakan nama samaran, dan juga film porno pertama yang merupakan parodi  (film ini memparodikan “The Boys in the Band”). Film ini juga sekaligus menjadi film porno kelas X pertama yang dibuat tinjauannya oleh New York Times

Dalam hal para pemainnya, meski sudah banyak orang yang bermain dalam film-film ini, tapi para pemerannya biasanya tidak ingin dikenal karena mereka jelas akan mendapatkan tekanan secara sosial.

Bintang porno pertama dari AS yang memiliki nama panggung adalah Linda Lovelace (Deep Throat). Selanjutnya bermunculan sejumlah nama lain seperti Marilyn Chambers (Behind the Green Door), Gloria Leonard (The Opening of Misty Beethoven), Georgina Spelvin (The Devil in Miss Jones), dan Bambi Woods (Debbie Does Dallas).

Setelah era 1970-an yang “berjasa” meletakkan pondasi film porno, pada era 1980-an industri ini makin berkembang pesat. Bahkan masa ini sering disebut sebagai “The Golden Age of Porn“, ditandai dengan banyak aktor dan aktris porno bermunculan seperti John Holmes, Ginger Lynn Allen, Traci Lords, Veronica Hart, Nina Hartley, Seka, dan Amber Lynn.

Masa ini berlanjut ketika dimulainya zaman DVD di tahun 1990-an lewat nama-nama seperti Jenna Jameson, Juli Ashton, Ashlyn Gere, Asia Carrera, Tera Patrick, Briana Banks, Stacy Valentine, Jill Kelly, dan Silvia Saint. Begitu terus hingga sekarang[]

aaa

bersambung ke film porno asia dan indonesia

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Noriko’s Dinner Table: Dianjurkan Untuk Tidak Menonton
Sudah lama banget saya mau bikin review film ini, tapi nggak tahu kenapa setiap kali dicobain males terus. Ada aja halangannya, sampai akhirnya jadi juga meski harus dipaksain. Bukan apa-apa, sebuah ...
Kemarin, ke 43 kalinya Nonton American Splendor
Mungkin ini salah satu film yang saya tonton berkali-kali, selain Arisan (Nia Dinata, 2003), Before Sunrise (Richard Linklater, 1995), dan Before Sunset (Richard Linklater, 2004). Tapi secara jumlah, ...
Mbak Sora Aoi, Sini Tinggal Saja di Indonesia
Agak berlebihan kalau saya bilang: "Saya memiliki kedekatan dengan sosok Sora Aoi", preeett... bisa-bisa tudingan perdana muncul "Oh, suka nonton filmnya ya?" Eh, tapi kalau itu ya...
Coraline... Bukan Caroline!
Sekarang saya bakal ngomongin salah satu film horor yang bikin betah ditonton. Yah sebenarnya saya ini rada alergi sama film horor, kecuali kalau dijebak teman seperti kasus ini. Namun khusus untuk Co...
Menafikkan Riset, Membuang Penonton
Dalam sebuah wawancara yang dimuat di media online (maaf kalau linknya sudah rusak, soalnya sudah lama, tapi kalau tidak salah ada di website SWA, langsung diklik aja buat yang penasaran), ada pernyat...
Django Unchained: Happy Ending versi Holywood
Salah satu sutradara—mungkin malah satu-satunya—yang saya suka adalah Quentin Tarantino. Walaupun saya kenal karya dia agak telat, yaitu dari Kill Bill I (2003). Kalau sutradara lain saya jarang mempe...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.