Superhero Indonesia Go Internasional

rama_superman_indonesiaSepanjang tahun 2010-2011, bioskop kita banyak diserbu sama film-film superhero!  misalnya saja Kickass (Matthew Vaughn, 2010), Iron Man 2 (Jon Favreau, 2010), Jonah Hex (Jimmy Hayward, 2010), The Green Hornet (Michael Gondry, 2011), Thor (Kenneth Bragath, 2011), X-Men: First Class (Matthew Vaughn, 2011), Green Lantern (Martin Campbell, 2011), dan Captain America: The First Avenger (Joe Johnston, 2011). Sayangnya, kalau dipikir-pikir semua superhero itu meski ruang lingkup “tugasnya” melingkupi seluruh dunia, tapi semuanya tinggal di Amerika.

  • Dengan logika anak-anak, kondisi itu menimbulkan pertanyaan: apakah negara lain tidak punya superhero yang bisa diandalkan untuk perdamaian dunia?
  • Dan dengan logika filmmaker, kondisi itu menimbulkan pertanyaan: apakah hanya superhero Amerika saja yang bisa diangkat ke film layar lebar?
  • Terakhir, dengan logika filmmaker Indonesia, kondisi itu menimbulkan pertanyaan : Apakah Indonesia punya superhero kelas dunia yang bisa diangkat menjadi sebuah film?

Untuk menjawabnya, mari kita bahas sedikit tentang fenomena film Superhero luar yang menyerbu Hollywood.

aaa

Superhero luar Hollywood
Tercatat sudah beberapa superhero non-Hollywood pernah masuk ke bioskop Amerika, misalnya saja Faust dalam film Faust: Love of the Damned (Brian Yuzna, 2000) yang merupakan superhero campuran Spanyol-Amerika. Lalu dari Jepang ada Ultraman lewat film Ultraman: The Next (Kazuya Konaka, 2004). India menyumbang tokoh Krrish dalam film Krrish (Rakesh Roshan. 2006). Bahkan Thailand juga mendaftarkan Mercury Man lewat film Mercury Man (Bhandit Thongdee, 2006).

Daftar ini bahkan bisa bertambah kalau kita mengacu pada superhero yang diakui secara lokal. Contohnya adalah Godzilla, sebab ternyata di Jepang, monster laut ini justru dimasukkan ke dalam golongan superhero). Film-filmnya pun sejak 1954 sudah rutin dibuat, dan salah satu filmnya yang masuk ke Hollywood adalah Godzilla (Roland Emmerich, 1998). Bahkan karakter Godzilla mendapat tempat khusus di Hollywood dengan tercatat dalam Hollywood Walk of Fame, dan mendapat Lifetime Achievement tahun 1996 dari MTV Movie Awards.

TAR-140519783.jpg&maxh=400&maxw=667api tetap saja kalau dihitung secara jumlah, Amerika adalah penyumbang superhero terbanyak. Dimulai sejak era Superman di tahun 1951, secara rutin Hollywood mengeluarkan 4-8 film per tahun baik bentuk original, sekuel, atau prekuel. Masing-masing ada yang diangkat dari komik (Superman, Batman, Captain America, atau Blade), dan ada yang termasuk karakter original (Darkman, Hancock, The Phantom atau Lightspeed)

Hegemoni superhero Amerika makin kuat karena ternyata banyak negara yang terang-terangan mengkloning para superhero itu baik dalam bentuk film lagi atau hanya berbentuk komik. Beberapa negara yang melakukan itu antara lain India, Jepang, dan Belanda dengan tokoh Spiderman. Tokoh legendaris Marvel yang aslinya bernama Peter Parker dan punya pacar bernama Mary Jane ini di India ternyata bernama asli Pavitr Prabhakar dan punya pacar bernama Meera Jain. Sementara di Jepang namanya menjadi Yamashiro Takuya, dan di Belanda menjadi Hans Jansen.

Lalu meski masing-masing negara menyangkal hubungannya dengan karakter asli, tapi faktanya Superboy juga muncul di Perancis, tepatnya lewat komik produksi Imperia tahun 1958, karakter Superboy juga muncul di Filipina lewat Superboy Lordino dan di Inggris lewat Superboyo (betul, namanya Superboyo!). Satu lagi, karakter Plastic Man yang cukup terkenal juga diadopsi oleh Filipina lewat Lasticman yang pertama tampil lewat Aliwan Komiks tahun 1964.

aaa

Superhero Indonesia
Untuk urusan superhero, ternyata Indonesia tidak kalah. Malah kita boleh berbangga hati karena dari 36 superhero Indonesia yang terdaftar di internationalhero.co.uk, kita tidak memiliki superhero yang 99% menjiplak seperti kasus Spiderman India tadi. Memang sih dalam sisi “kemampuan superhero” kita masih banyak meniru, jadi superhero Indonesia juga rata-rata bisa terbang, bisa menahan meteor, bisa memanjangkan tubuh, bisa menghilang, punya sinar laser di mata, dan banyak lagi.

Tapi justru itu menunjukkan kalau superhero Indonesia sudah melakukan “standarisasi” hingga layak tampil di Hollywood, sebab bukankah kemampuan superhero Amerika juga tidak jauh dari itu? Kembali ke pertanyaan awal : Apakah Indonesia punya superhero kelas dunia yang bisa diangkat menjadi sebuah film? Jawabannya ada, Indonesia punya beberapa superhero yang tidak “memalukan” untuk ditawarkan ke produser luar negeri. Beberapa dari mereka antara lain:

aaa

200px-gundala2GUNDALA. Pertama kali muncul lewat komik Gundala Series, (Kentjana Agung Publishing, 1969) dan tahun 2005 Penerbit Bumi Langit menerbitkan ulang seluruh komik Gundala sejak tahun 1969 – 1982. Karakter karya Harya Suraminata ini termasuk superhero Indonesia yang cukup terkenal. Dia punya nama asli Sancaka dengan area operasi di Indonesia. Gundala pun pernah muncul dalam film berjudul “Gundala Putra Petir” (Lilik Sudijo, 1981) rumornya di tahun 2009 akan muncul reboot-nya dengan sutradara Alex J. Simal, tapi sampai November 2009 ternyata belum ada kabar lagi.

Apa yang membuat Gundala layak diangkat ke dunia inernasional? Antara lain karena Gundala digarap cukup serius dan memiliki cerita yang sudah lengkap, karena dalam petualangannya ada cerita-cerita dia menikah (dengan Sedhah Esti Wulan a.k.a Merpati), membentuk organisasi superhero (Patriot yang beranggotakan Gundala, Godam, Aquanus, dan Maza), fitnah terhadap Gundala, sampai cerita dia meninggal. Dengan unsur-unsur seperti ini, kita bisa yakin kalau Gundala berpotensi untuk jadi film yang bagus.

250px-sriasih1SRI ASIH. Kemunculan Sri Asih diawali dengan niatan untuk membuat superhero yang tetap menonjolkan budaya Indonesia. Maka RA Kosasih membuat sebuah karakter yang memiliki kekuatan super tapi dengan baju seragam mirip karakter pewayangan. Nama asli tokoh ini adalah Nani, dia pertama kali muncul pada komik Sri Asih terbitan Penerbit Melodie tahun 1954. Dan dalam perkembangan ceritanya, Sri Asih betul-betul menjelajah dunia Internasional karena dalam melaksanakan tugasnya dia sampai merambah ke Singapura dan Macao.

Apa yang membuat Sri Asih layak diangkat ke dunia internasional? Antara lain karena sudah tersedia cerita dia beraksi di luar Indonesia, selain itu Sri Asih bisa menjadi sarana mengenalkan budaya Indonesia ke dunia luar lewat bajunya. Lagipula bukan tidak mungkin baju Sri Asih akan menjadi trend busana superhero ke depannya, terutama mengingat sebagai besar superhero mengenakan baju yang mirip-mirip satu sama lain.

250px-kalongKALONG. Karakter yang diciptakan oleh Harya Suraminata ini pertama kali muncul lewat komik berjudul Calong Anak Kelelawar (Kentjana Agung Publishing, 1972). Dia adalah anak SD yang bernama Agus Supriyadi yang memiliki kekuatan super karena diberi raja kelelawar yang bernama Xamfereet. Sampai sejauh ini baru sedikit komik yang menceritakan tokoh Kalong, tapi dia sempat juga ikut muncul dalam komik-komik Gundala atau Patriot

Apa yang membuat Kalong layak diangkat ke dunia internasional? Antara lain karena dunia sepertinya membutuhkan superhero yang masih berwujud anak kecil. Sebab bila diperhatikan, hampir semua superhero yang ada pasti berwujud orang dewasa. Bukankah akan lebih menarik jika ada superhero anak kecil? Setidaknya kita bisa memberikan semacam perbandingan superhero dengan Amerika.

aaa

Seluruhnya ada tiga puluh enam tokoh, tapi tiga ini dulu yang dipilih karena memang dari segi cerita dan kekuatan karakter, baru tiga ini yang layak untuk diangkat. Sekarang pertanyaan berikutnya, siapa yang mau mengangkatnya? Pertanyaan ini bisa jadi dilema karena sebenarnya superhero lokal di dunia perfilman Indonesia masih belum bisa juga dijual. Tapi bila orang-orang Hollywood mau ikut campur bukan tidak mungkin karakter-karakter ini malah akan jadi lebih menarik. Artinya yang dipentingkan di sini adalah kerjasama antar negara.

Kalau untuk film-film seperti Merantau (Gareth Evans, 2009), Merah Putih (Yadi Sugandi, 2009), atau Jermal (Ravi L Bharwani & Rayya Makarim, 2008) saja kita bisa bekerjasama dengan orang luar. Mengapa untuk film-film superhero kita tidak bisa? Apalagi secara jujur kita sangat perlu bantuan mereka untuk segi visual efek dan animasi. Ini penting, sebab kalau bukan kita yang mengangkat mereka, harus siapa lagi? Apa kita harus tunggu sampai para superhero itu diklaim negara lain? Tidak kan? []

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan The Raid: Sebaris Bersama Alay
Sebenarnya bukan pilihan saya untuk nonton sendirian ke bioskop, memang rasanya lebih nyaman kalau bareng-bareng biar rame. Tapi kemarin saya terpaksa nonton The Raid sendirian di Ciwalk XXI, soalny...
Buried, Film Panjang dengan Satu Aktor!
Wew, satu kata buat film ini: Briliant! Serius, tadinya saya merasa agak pesimis ketika ada teman yang menyarankan  nonton. Itu karena saya berpikir: apa mungkin ada film yang enak ditonton 90 menit, ...
Rumah Putih #3: Indonesia tak Pernah Memilih
“Indonesia memilih….” teriak Atta dan Irgi, lalu mereka diam, menyebarkan suasana tegang ke seluruh arena. Kamera mensyut wajah Mike, Judika, lalu menjauh, menyorot empat sosok itu. Sesaat kemudian,...
Rumah Putih #5: Ketika Peranan Menjadi Diri
Seberapa dalamkah sebuah peran merasuki hidup seseorang? “Beberapa hari setelah usai syuting, aku masih merasa diriku ini orang lain. Butuh waktu lama bagiku untuk keluar dari karakter yang aku pera...
Kronik Sebuah Kota Tuhan
Dua hari yang lalu, selang-seling mengurus pekerjaan, saya untuk kesekian kalinya menonton film City of God (Fernando Meirelles, 2002), sebuah film Brasil yang bercerita tentang realita kehidupan jala...
Goodbye Dragon Inn
Bulan Desember ini saya memang sudah rencana untuk menonton film-film dengan ritme yang lambat. Tidak ada alasan khusus. Euh... ada sih... yaitu untuk lebih menghayati kesendirian, kesepian, dan kerin...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.