Nonton Film Ini, Saya Nangis di Menit 55:11

91FMPsl2+KL._SL1500_Sebuah film Jepang, judulnya Departures (おくりびと Okuribito) karya sutradara Yojiro Takita, rilis 13 September 2008 (arrghh… ini me-nye-bal-kan! selalu saja kalau ada film bagus pasti saya telat nontonnya!). Awalnya saya pinjam film ini dari teman karena tertarik sama sinopsisnya, inti ceritanya sih begini: Daigo Kobayashi seorang pemain cello harus menerima kenyataan bahwa orkestranya dibubarin, padahal dia baru beli cello baru! (berapa sih harga cello?). Akhirnya untuk menunjang kehidupan keluarganya, dia bekerja jadi “Tukang Merapihkan Jenazah”

Maksudnya apa? Oh, ternyata di Jepang sana ada semacam pekerja swasta”yang bertugas menangani jenasah,jadi bukan coroner dari rumah sakit. Kadang dia menangani jenasah yang sudah busuk, kadang dipanggil ke rumah menangani jenasah anggota keluarga yang baru meninggal. Nah, khusus untuk penanganan jenasah di rumah, itu ada semacam ritual bagi jenazah yang akan dikremasi, jenazah harus didandani dulu supaya cantik dan ganteng lagi.

Dimulai dari pekerjaan itu, ternyata muncul banyak konflik ringan dan lucu di film ini, misalnya: dapat jenasah yang sudah busuk 2 hari. Ada juga jenasah waria yang memicu perdebatan ortunya, si ibunya minta si jenasah didandani sebagai perempuan, bapaknya minta sebaliknya. Atau ada lagi seorang suami yang kelihatannya keras banget, tapi begitu melihat jenasah istrinya “cantik” setelah didandani mendadak jadi bisa menangis kehilangan sebab katanya sang istri belum pernah secantik itu. Atau cerita tentang seorang anak yang berkonflik sama ibunya, bahkan sampai ibunya didandani si anak masih keras juga kelakuannya… baru setelah lihat ibunya dikremasi dia nangis-nangis minta maaf (telat banget bung!). Belum lagi konflik dengan istrinya (yang cuantiiikk… Ryoko Hirosue gitu loh! 😀 ) yang sebenarnya tidak setuju dengan profesi baru suaminya itu, dan bagaimana dengan cerdasnya konflik itu terselesaikan.

Apa ilmnya serius? nggak kok, cukup banyak scene yang bikin saya ketawa, salah satunya adalah bagimana Daigo muntah-muntah waktu dikasih ayam sama tetangga dan kebetulan (mungkin karena terlalu banyak liat mayat) maka dia agak-agak jijik kalau lihat daging baik matang atau mentah. Tapi belakangan karena dikasih tahu dan diajari bosnya maka dia malah jadi pelahap ayam yang baik. (intinya sih kata bosnya: ayam itu jenasah juga, maka perlakukanlah dengan baik, hormati, jangan jijik, salah atu cara menghormatinya adalah memakannya dengan lahap biar ayamnya nggak tersinggung…). Lalu masih banyak deh komedi yang lain, harus nonton sendiri biar tahu…

aaa

Kemampuan Memotret Budaya, Sekali Lagi!
Kekuatan Departures rupanya sama dengan rata-rata film Jepang, dia mampu mengkomunikasikan budayanya dengan baik. Akhirnya kita sebagai penonton jadi ngerti bahwa di Jepang ada ini toh? ada ini toh? ada ini toh?

Contoh film begini sudah banyak, Misalnya kehidupan Geisha ada di film The Geisha House (Kinji Fukasaku, 1999), Memoir of a Geisha (Rob Marshall, 2005), atau Sakuran (Mika Ninagawa, 2006). Kehidupan Samurai bisa dilihat di banyak film, antara lain The Twilight Samurai (Yoji Yamada, 2002), When The Last Sword is Drawn (Yojiro Takita, 2003), The Hidden Blade (Yoji Yamada, 2004). Atau mau tahu kehidupan Yakuza dengan baik coba lihat film Ichii the Killer (Takeshi Miike, 2001) atau Brother (Takeshi Kitano, 2000).

Ciri khas film Jepang adalah perkenalan budaya tadi, sebab banyak plus-plusnya. Misalnya kita bisa tahu tentang kimono, upacara minum teh, tradisi pernikahan, bunuh diri, konsep persaudaraan antar kelompok, cara mereka bekerja, belajar, berpikir dan bicara sehari-hari bisa terekam dengan baik.

Tapi dari keseluruhannya, ada satu inti pesan yang bisa saya tangkap dari Departures, sebuah inti yang bahkan membuat saya menangis waktu nontonnya (serius, saya nangis dengan dahsyat! untung nggak ada yang lihat)  yaitu…

aaaOkuribito-2

aaa

Kita Adalah Penjaga Gerbang Kematian
Terdengar dramatis? menyeramkan? tapi saya tertegun waktu sampai pada kesimpulan itu. Hal itu diucapkan dengan jelas oleh seorang petugas kremasi yang namanya Shokichi Hirata, di sana dia bilang:

I’ve often thought that maybe death is like a gateway. Dying doesn’t mean the end, you go through it and on to next thing. It’s a gate, and as the gatekeeper i’ve sent so many on their way…telling them “off you go, we’ll meet again …

Setelah dia ngomong gitu, tangannya mencet tombol on dan api kremasi menyala… (itu scene paling bikin merinding di Departures… dua jempol!!).

Lalu dari scene-scene selanjutnya bisa disimpulkan… kalau pekerjaan perias jenazah, petugas kremasi, pembuat peti mati (di Indonesia: pemandi jenazah, pembungkus jenazah, penggali liang kubur, atau imam shalat jenazah) adalah pekerjaan para penjaga gerbang. Di sanalah keistimewaan mereka, mereka mengerjakan sebuah pekerjaan yang tidak semua orang mau melakukannya. “Mempersiapkan jenazah untuk melakukan perjalanan jauh…

Di sini saya tertegun dan mendadak ingat pesan ibu saya, katanya:  “Kalau mati, ibu pengennya anak yang jadi imam shalat, jangan orang lain…”. Kesadaran inilah yang bikin saya menangis waktu nonton ini karena ternyata tokoh Daigo juga menjadi penjaga gerbang yang sempurna bagi ayahnya. Yah… intinya, saya jadi termotivasi untuk jadi penjaga gerbang yang sempurna juga untuk ibu sendiri

Pokoknya menurut saya, ini film yang hampir sempurna, sehat buat ditonton, tidak percuma dia jadi Best Foreign Film di Academy Awards, lalu Mercedes-Benz Audience Award for Best Narrative Feature di Palm Springs International Film Festival, Best Performance by an Actor di Asia Pacific Screen Awards, Audience Choice Award di Hawaii International Film Festival dan deretan penghargaan lain…

Satu lagi tambahan, film ini punya musik score yang hebat, artinya munculnya tepat dan jiwa musiknya juga tepat (dibuat oleh master Joe Hisaishi, keren tuh, master yang bikinnya juga! yang mau download soundtracknya full bisa klik disini), dan tentu saja faktor… Ryoko Hirotsue, selalu Ryoko Hirotsue… 😀

aaa

BINUS: Ryoko Hirotsue di fil mini... cantik ya?
BONUS: Ryoko Hirotsue di film ini… cantik ya?

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Menanti Islami Asli, Bukan Adaptasi
Dalam sebuah wawancara, Joko Anwar pernah mengatakan bahwa dalam membuat film, sutradara di Indonesia terbagi dua yaitu sutradara for hire dan sutradara yang memiliki something to say. Sebenarnya “Gel...
Dosen Gadungan di UNPAD!
Akhirnya saya bisa merasakan juga jadi dosen. Tepatnya dosen tamu di Fakultas Seni Budaya Universitas Padjajaran. padahal nggak pernah nyangka, mimpi aja nggak berani... soalnya saya kemana-mana cum...
Agni, the Loveable...
Sudah lama nggak ngupdate cewek of the week, alasan pertama karena migrasi server, alasan kedua karena lupa terus! Aduh ini otak memang sudah mendekati pikun. Padahal harusnya ini saya update seminggu...
Rumah Putih #1: Berharap Pada yang Bangkit dari Kubur
Cerita tentang mayit yang bangkit dari kubur, yang kini mendominasi sinetron “religius”, pernah juga merajai tema film Indonesia tahun 1980-an. Namun, bangkitnya mayit itu ternyata membawa “pesan” yan...
Rumah Putih #3: Indonesia tak Pernah Memilih
“Indonesia memilih….” teriak Atta dan Irgi, lalu mereka diam, menyebarkan suasana tegang ke seluruh arena. Kamera mensyut wajah Mike, Judika, lalu menjauh, menyorot empat sosok itu. Sesaat kemudian, k...
Hiper-realitas Layar Kaca Indonesia
Dua orang anak perempuan berlari dikejar kepiting raksasa. Mereka berteriak minta tolong sambil terus berlari. Ternyata dari depan muncul ibu mereka disertai orang kampung yang membawa senjata. Dengan...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.