Nonton Downfall: Merinding Dini Hari

downfall21_1502Saya yakin  sudah banyak yang menonton film ini. Ya, soalnya ini film lama, rilis tahun 2004 di Jerman (kalau rilis di USA tahun 2005) dengan disutradarai oleh Oliver Hirschbiegel. Film ini masuk kategori epik movie yang dibuat dari hasil kerjasama 3 negara: Jerman, Italia, dan Austria. Kalau saya nonton film ini dua kali, yang pertama lupa lagi. Pokoknya lewat DVD–bajakan tentu saja–dan yang kedua itu tadi malam.

Jadi ceritanya tadi malam itu iseng, bangun tidur jam 1, nggak tahu mau ngapain. Akhinya nyalakan TV dan langsung tampak muka Hitler di layar! Buset… Hitler boo!  Nah, karena mata masih belekan plus baru dua detik ngeliat tampang si kumis itu ternyata langsung muncul iklan, maka otak saya agak lambat mencerna. Sampai iklan beres dan film mulai lagi, saya masih nyangka itu adalah film Valkyrie (Bryan Singer, 2008).

Setelah beberapa lama baru ingat kalau yang jadi Hitler di Valkyrie itu namanya David Bamber, sementara yang di layar ini sih tampangnya lebih “menyedihkan” dari si David, barulah otak melakukan koneksi dan inget kalau yang ada di layar itu adalah Bruno Ganz. Artinya di layar memang Downfall yang lagi main (salah satu “Hitler Movie” yang terbaik menurut saya…)

Buat yang belum tahu:
Film ini judul aslinya “Der Untergang“, mengambil setting waktu tahun 1945, tepatnya sepuluh hari sebelum Hitler bunuh diri di bunkernya karena pasukannya sudah terdesak oleh Rusia. Film ini diangkat dari beberapa buku seperti: Inside Hitler’s Bunker (Joachim Fest, 2002), dan Until the Final Hour (Traudl Junge, 2002), dan banyak buku lainnya lagi. Bukan spoiler nih, endingnya memang Hitler itu mati, tapi “langkah-langkah” menuju kematiannya yang layak untuk disaksikan di sini.

Nah, ternyata kemarin ketika nonton ulang film ini, saya bisa memperhatikan detail-detail yang terlewat. Bahkan mungkin karena menontonnya jam 2 pagi, maka aura depresi dan kengerian film bisa tertangkap dengan baik.

Serius! menurut saya, si sutradara bisa sukses membuat atmosfer depresi yang melanda semua perwira Nazi, perawat, sampai sekretaris pribadi Hitler. Bahkan sebenarnya tidak usah lewat raut wajah, tapi juga lewat pencahayaan, tata artistik, dan warna bungker juga sudah terlihat kalau film ini depresi banget.

Adegan yang paling bikin saya “terganggu” adalah ketika tokoh Magda Goebels (Corinna Harfouch) harus membunuh enam anak kecil yang lagi pada tidur. Anak-anak itu dibunuh karena… yah, nonton sendiri lah biar tahu pokoknya, saya dipaksa menerima kematian yang terlalu banyak hanya dalam satu scene tanpa dialog. Hanya adegan Magda memasukkan kapsul racun ke mulut anak-anak imut itu, tanpa musik, hanya suara kunyahan kapsul dan cegukan kecil pertanda mereka pada mati. (Itu salah satu adegan kematian yang bakal sulit dilupakan!)

Lalu ada sedikit catatan tentang dua pemain di sana, setidaknya dua orang ini memang berhasil mencuri perhatian, mereka adalah:

Bruno Ganz
Bermain sebagai Adolf Hitler, dia sukses memerankan Hitler yang kalah. Soalnya  sudah jadi hal biasa kalau kita disuguhi Hitler yang jaya, yang dihormati, yang ditakuti, pendeknya… yang nyeremin! tapi Bruno bisa memerankan sebaliknya: Hitler yang bongkok, selalu gelisah, selalu kelihatan bingung bin linglung bin pusing tujuh keliling. Kalau Heath Ledger di film The Dark Night (Christopher Nolan, 2008) disebut-sebut sebagai pemeran Joker terbaik, maka Bruno Ganz boleh dikatakan sebagai pemeran Hitler terbaik.
Bruno sendiri adalah aktor kelahiran Zurich, 22 Maret 1941 yang sudah malang melintang di banyak film terkenal seperti The Manchurian Candidate (Jonathan Demme, 2004), Baruto no Gakuen (Masanobu Deme, 2006), Youth Without Youth (Francis Ford Coppola, 2007) dan The Reader (Stephen Daldry, 2008)

Alexandra Maria Lara
Di film ini dia bermain sebagai Traudl Junge, seorang sekretaris pribadi Hitler yang masih muda. Yang bikin saya suka itu, pas dia memainkan adegan seorang sekretaris yang sedang menuliskan (steno) surat wasiat yang didiktekan oleh Hitler. Gimana ya, ekspresi dia di sana kena banget, sebagai orang yang pura-pura tegar tapi sebenarnya sedih. Ah, pokoknya begitu deh… nonton aja kl penasaran.
Alexandra adalah aktris kelahiran Rumania, 12 November 1978, dia sudah banyak main di film-film bagus. Beberapa malah satu frame sama Bruno Ganz seperti Youth Without Youth dan The Reader. Filmnya yang lain misalnya saja: Control (Anton Corbijn, 2007), Miracle at St. Anna (Spike Lee, 2008) dan City of Life (Ali F. Mostafa, 2009)

Oke, itu dulu… pokoknya pengalaman menonton yang kedua kali ini kerasanya beda banget, dan terus terang lebih merinding dari pas pertama. Mungkin faktor atmosfir ruangan yang dingin dinihari.[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Superhero Indonesia Go Internasional
Sepanjang tahun 2010-2011, bioskop kita banyak diserbu sama film-film superhero!  misalnya saja Kickass (Matthew Vaughn, 2010), Iron Man 2 (Jon Favreau, 2010), Jonah Hex (Jimmy Hayward, 2010), The Gre...
500 Hari yang Menyebalkan
Setelah nonton film 500 Days of Summer (Marc Webb, 2009) temen saya ngirim SMS begini: "Every young single girl is f*****g suck! Thanks GOD gue udah merried!"... Haha, oke saya akui SMS ...
Rumah Putih #3: Indonesia tak Pernah Memilih
“Indonesia memilih….” teriak Atta dan Irgi, lalu mereka diam, menyebarkan suasana tegang ke seluruh arena. Kamera mensyut wajah Mike, Judika, lalu menjauh, menyorot empat sosok itu. Sesaat kemudian,...
Subang: Bicara Film & Kehujanan
Subang adalah sebuah tempat yang sejak SD gue definisikan sebagai: daerah dengan sungai paling jernih dan ditempuh sambil menikmati pemandangan yang sempurna. Itu memori gue tentang Subang, yang kemar...
Goodbye Dragon Inn
Bulan Desember ini saya memang sudah rencana untuk menonton film-film dengan ritme yang lambat. Tidak ada alasan khusus. Euh... ada sih... yaitu untuk lebih menghayati kesendirian, kesepian, dan kerin...
Tomorrow I Will Date With Yesterday's You
Sudah lama saya merasa tidak ingin menulis tentang film. Sejak memutuskan untuk pensiun dari dunia film dan konsen di dunia menulis, intensitas saya menonton film menurun drastis. Apalagi memang dulu ...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.