Nasi Goreng “Kuntilanak”

2884001837_bb8bd50b2c_zSambungan dari “Nasi Goreng Papua”

Nah, nasi goreng ketiga yang saya jauhi adalah nasi goreng di sebelah utara base-camp.

Jadi yang ini ceritanya waktu saya dan teman-teman kepentok deadline (lagi), saat itu deadline kita sudah sampai tahap jam, bukan hari lagi. Saking mempetnya, sampai-sampai kita begadang tiga hari tiga malam. Di malam ketiga—sekitar jam sebelas—semua baru inget bahwa kita satu tim ini belum makan dari siang. Maka dengan mengabaikan fakta bahwa film itu harus jadi jam delapan pagi besok, kita memutuskan buat makan dulu. Iya lah, daripada mati kelaparan di depan komputer! Mendingan mati dalam pelukan Nikita Willy!

Pertanyaan: dimana jam sebelas malam nyari makan yang cepat, praktis, dan nggak buang waktu? Jawaban yang logis tentu cuma satu: CARI NASI GORENG!

Kita bertiga keluar dari pintu utara dengan kondisi lagi pada mumet, otak panas dan ada dalam posisi kejiwaan nyaris nge-hang, jadi kita semua cenderung males nyari dan sepakat secara telepati untuk makan di tempat pertama yang kelihatan mata. Kebetulan tempat inilah yang mampir di mata kita.

Sebenarnya saya sering banget ngelewatin tempat ini tapi nggak tahu kenapa nggak pernah ada niat buat mampir. Nggak tahu kenapa, mungkin karena letaknya di bawah pohon. Eh, beneran di bawah pohon lho, sampe-sampe letak meja dan kursi nggak bisa simetris karena menyesuaikan dengan jalinan akar pohon itu yang gede banget). Lho, memangnya kalau di bawah pohon kenapa? Takut ada kuntilanak penunggu pohon ikut jajan? Nggak tuh, gue nggak takut ada kuntilanak yang numpang makan disitu.

kuntilanak-di-mall
Ehm! perhatikan penampakan kuntilanak di belakang, bukan yang lain!

aaa

Bodo amat… lagipula orang aneh mana yang mengindentikkan kuntilanak dengan pohon sih? Harusnya kuntilanak itu diidentikkan dengan perawan! Kenapa? cek aja semua film kuntilanak pasti hasil evolusi dari gadis perawan yang mati penasaran, rata-rata matinya karena diperkosa. atau digagahi. (damn, saya paling suka kata itu! DI-GA-GA-HI)

STOP! Balik ke nasi goreng!

Waktu kita masuk sana suasana lumayan rame, di satu meja ada empat orang cewek yang cakep-cakep lagi ngegosip, ada lagi dua orang bertampang homo di meja sebelah, beneran! Kenapa saya yakin? Karena pas kita masuk, cowok yang satu lagi mencetin jerawat cowok di sebelahnya, sambil bilang “Sory ya, sakit dikit nih…” hiiiyyyy… terus ada lagi segerombolan cowok yang lagi ketawa-ketawa ga jelas sambil ngumpul di meja sebelah belakang pas di deket akar pohon yang paling besar. Gue curiga mereka lagi ngetawain kuntilanak yang nongkrong pas di pohon sebelah atas mereka. Entahlah, mungkin karena posisi duduk mereka yang strategis maka mereka bisa lihat celana dalam kuntilanak corak loreng macan.

Kita mesen nasi goreng lalu milih tempat duduk, kebagian di tengah-tengah ketiga kelompok yang saya ceritain tadi. Sambil nunggu nasi goreng datang kita ngomongin kerjaan yang lagi digarap, yah sekedar rapat kecil. Itu terjadi sekitar jam sebelas seperempat. Berharap nasi gorengnya nggak lama.

Kita ngobrol… ngobrol…ngobrol… sudah ganti topik obrolan tiga kali: kerjaan PALING SUSAH, film PALING RAME, cewek PALING SEKSI… Nasi goreng belum datang.

Kita ngeliatin yang dagangnya, ternyata mereka lagi masak nasi goreng. Oke, kita nunggu sambil… ngobrol… ngobrol…ngobrol… sudah ganti topik obrolan tiga kali: kerjaan PALING RAME, film PALING SEKSI, cewek PALING SUSAH… Nasi goreng belum datang juga!

Kita bingung, kok lama banget? Tapi kan si abangnya masih masak? Berapa lama sih masak nasi goreng tiga piring? Ah, kita belum mau cerewet… Lanjuuuttt… ngobrol… ngobrol…ngobrol… sudah ganti topik obrolan tiga kali: kerjaan PALING SEKSI, film PALING SUSAH, cewek PALING RAME… dan masih belum datang juga! Buseeet, sampe teman saya nanya “Mang, nasi gorengnya sudah?”, mamangnya jawab “Oh ya ini lagi dibuat.”

Oh… oke, sabar lagi deh meski waktu sudah menunjukan hampir jam dua belas malam. Lalu akhirnya kita tetap menunggu… sudah nggak ada bahan obrolan, cewek tukang gosip, cowok homo, dan boyband yang tadi ngintipin celana dalam kuntilanak itu sudah pada pergi.

Lima… belas.. menit… kemudian…
Nasi gorengnya datang… satu piring!
“Mang, kan pesennya tiga?!” Temen saya sudah nanya dengan nada histeris
“Oh iya, ini yang pedesnya. Yang nggak pedes lagi dibikin, gorengnya dipisah mas…”

Mampus! Tiga nasi goreng dimasak dalam waktu satu jam! Gue curiga ini nasi digorengnya per butir, terus telurnya nunggu ayam kawin dulu, bawangnya harus ngambil dulu di kebon, kerupuknya masih mentah dan harus dijemur dulu, bahkan mungkin si mamang tadi manjat dulu pohon kelapa buat ngambil bahan minyak goreng!

Ya, endingnya tetap kita makan nasi goreng (yang ternyata juga nggak enak!) jam setengah satu, dan kerjaan kita jadi molor cuma gara-gara nunggu kuntilanak tukang nasi goreng masak, dan tentu saja  nasi goreng yang ini juga masuk daftar hitam kita, sekarang dan selamanya![]

sss

aaa

Share This:

Related posts:

Nasi Goreng "Naga"
Sambungan dari "Balada Nasi Goreng" Nasi goreng di urutan pertama yang saya jauhin adalah seorang mamang nasi goreng yang mangkal di sebelah barat base-camp! Sebenarnya sudah lama agak cur...
Nasi Goreng "Papua"
Sambungan dari "Nasi Goreng Naga" Tukang nasi goreng kedua yang saya jauhin letaknya ada di sebelah timur base-camp, tepatnya di depan sebuah rumah sakit. Nah, kalau yang ini saya curiga, j...
Subang: Bicara Film & Kehujanan
Subang adalah sebuah tempat yang sejak SD gue definisikan sebagai: daerah dengan sungai paling jernih dan ditempuh sambil menikmati pemandangan yang sempurna. Itu memori gue tentang Subang, yang kemar...
Angkringan dan Demokrasi
Sudah tiga hari ini saya ada di Yogyakarta, ikut workshop penyutradaraan. Nanti aja deh cerita soal workshopnya, sekarang saya cuma mau cerita soal gerai makanan khas Yogya yang namanya ANGKRINGAN. S...
Bersastra dan Bersantai di Rumpun Ariadinatan
Selain dikenal sebagai kota pelajar, Yogyakarta juga identik dengan kota budaya dan kota pariwisata. Berbagai hal yang berkaitan dengan dua hal tersebut dapat kita temui di kota ini. Mulai dari soal k...
Catatan Bontang #2: Selangan
Selama tiga minggu dia di Bontang ini, saya jarang kemana-mana, cari makan, ambil duit di ATM cuma di sekitaran kosan, paling yang agak jauh pas beli bensin. Itulah sebabnya selama disini saya baru bi...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

4 thoughts on “Nasi Goreng “Kuntilanak”

  • 18/06/2012 at 00:27
    Permalink

    GOOOOOOKKIIIIILLLLLLLL ABIZ GLA AMPUN MASAK NASGOR ZA AMPE’ 3 JAM WAH MATI LAU AKU KU TNGGAL KABUR AJA untung lau nasgor.a murah lah lau mahal ya rugi kah hahahahahahahahahahahahahahahaha

  • 19/06/2012 at 04:45
    Permalink

    itulah bro… kita juga ga tahu kenapa kita ga pergi aja dari situ… mungkin karena dasarnya kita orang baik ya… hehehe

  • 24/02/2013 at 01:02
    Permalink

    been there. nunggu nasi goreng sampe 1,5 jam… tp bedanya langganan ane nasgornya enak… jadi omelan dan keluh kesah terbungkam setelah sepiring nasgor yang mengepul dengan indahnya, dengan menampakkan warnanya yang keemasan…. (lebay mode :on)…
    ah nasgor… sayangnya gw ga mesen nasgor, gw mesennya capcay. hahhahha. (lho?)

  • 21/03/2013 at 18:26
    Permalink

    uh enak kalo udah langganan, mau marahin mamangnya juga gpp kan udah jadi temen :)

Leave a Reply

Your email address will not be published.