“The Maiden Heist”, Film Komedi Para Senior

Film ini genrenya komedi ringan, disutradarai sama Peter Hewitt, rilis tahun 2009. Dari pertama lihat covernya, saya sudah yakin kalau filmnya jaminan mutu meski nggak tahu juga mutunya setinggi apa, maksudnya… pasti bagus deh ini film!

Mungkin yang pertama bikin menarik adalah para pemainnya. Di cover itu ada foto (dan nama) Morgan Freeman (salah satu aktor favorit saya!) yang pasti sudah dikenal lewat banyak film, antara lain The Swashank Redemption (Frank Darabont, 1994), Bruce Almighty (Tom Shadyac, 2003), Batman Begins (Christopher Nolan, 2005), The Dark Night (Christopher Nolan, 2008), dan terakhir dia jadi Nelson Mandela di Invictus (Clint Eastwood, 2009).

Terus di cover film ini nempel juga nama Christopher Walken yang beken lewat banyak banget film, antara lain Catch Me if You Can (Stephen Spielberg, 2002), Kangaroo Jack (David McNally, 2003), Man of Fire (Tony Scorr, 2004), Balls of Fury (Robert Ben Garant, 2007), dan The Irishman (Jonathan Hensleigh, 2010).

Siapa lagi? ada… Wiliam H. Macy yang main di film-film kaya Air Force One (Wolfgang Petersen, 1997), Jurassic Park III (Joe Johnston, 2001), Thank You for Smoking (Jason Reitman, 2005), Bobby (Emilio Estevez, 2006), dan Marmaduke (Tom Dey, 2010)

Dan jangan lupa, ada senior yang masih cantik meski umurnya sudah 50-an, dia punya nama Marcia Gay Harden. Ibu-ibu cantik ini pernah main di film seperti Pollock (Ed Harris, 2000), Mystic River (Clint Eastwood, 2003), Mona Lisa Smile (Mike Newell, 2003), Into the Wild (Sean Penn, 2007), dan The Mist (Frank Darabont, 2007)

Oke, pemerannya udah beken, lalu gimana ceritanya?

aaa

Komedi Senior, Beda…
Ceritanya sih sederhana, ada tiga orang penjaga museum yang sudah tua banget dan masing-masing punya benda kesayangan di museum tersebut. Pokoknya sampai mereka sepakat nggak bisa hidup tanpa benda itu di sebelahnya! Nah, ternyata museum tempat mereka bekerja itu mau pindah ke Denmark! mereka patah hati, dan sepakat untuk mencuri benda-benda itu untuk mereka sendiri.

Di sinilah komedi mulai mengalir keluar. Untungnya komedi dalam film ini tidak bergantung pada hal-hal jorok atau adegan-adegan slapstick yang berlebihan. Sebaliknya hampir semua kelucuan dalam film ini mengalir karena memang karakter dan situasinya tidak dibuat-buat seperti bisa terjadi karena miskomunikasi antar para karakter dalam film ini.

Dan terus terang saja, agak surprise saja waktu lihat empat orang ini main komedi. Coba deh nonton dan rasakan bahwa para senior ini sebenarnya tidak sedang main film komedi, tapi memang mereka sedang hidup dan tidak bermaksud menciptakan situasi komedi. Artinya ketika menontonnya kita seolah dipaksa menerima kenyatan bahwa di layar itu memang orang-orang nyata, kelakuan nyata, pencurian nyata, bahkan Wiliam H Macy yang bugil 3 kali di sini terasa wajar dan anehnya… saya jatuh kasihan sama tokoh ini…

Cuma penilaian saya sebatas itu, jujur saja endingnya bagi saya agak mengecewakan, agak terlalu cepat, malah kadang agak dipaksakan. Tapi tidak ada ruginya karena sepanjang 90 menit kita disuguhi akting yang bagus dari pada senior ini.

Oh iya, ada info terakhir, katanya film ini tidak sampai rilis di Amerika sana karena Yari Film Group yang bertanggung jawab mendistribusikan film ini bangkrut sebelum sempat merilisnya… betul begitu? kasihan banget kalau iya… []

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Noriko’s Dinner Table: Dianjurkan Untuk Tidak Menonton
Sudah lama banget saya mau bikin review film ini, tapi nggak tahu kenapa setiap kali dicobain males terus. Ada aja halangannya, sampai akhirnya jadi juga meski harus dipaksain. Bukan apa-apa, sebuah ...
Pengkhianatan Film Pada Novel, Kenapa Tidak?
Dalam sebuah diskusi film KCB, Hikmat Gumelar mengatakan bahwa film Ayat Ayat Cinta (AAC) lebih berhasil karena dia berani “mengkhianati” novelnya. Ini pernyataan yang menarik lantaran pernyataan ini ...
Basic Instinct Itu Menyehatkan Mata
Karena saya lagi nulis novel yang ada unsur psikopatnya, maka saya merasa wajib nyari banyak literatur soal kehidupan seorang psikopat. Kalau dari baca buku sudah, e-book novel soal pembunuhan numpuk ...
Django Unchained: Happy Ending versi Holywood
Salah satu sutradara—mungkin malah satu-satunya—yang saya suka adalah Quentin Tarantino. Walaupun saya kenal karya dia agak telat, yaitu dari Kill Bill I (2003). Kalau sutradara lain saya jarang mempe...
Menguak Korelasi Triangle Composition dan Majas Pars Pro Toto dalam A Letter For Mommy
Setiap akan mengulas sebuah film, saya selalu berpegang pada kata-kata Ekky Imanjaya. Dalam sebuah wawancara yang termuat di cinemapoetica (16/02/2016) ia berkata bahwa setiap film memiliki yang naman...
Bohemian Rhapsody: Film Khusnul Khotimah
Di balik segala tulisan saya ini—termasuk menghindari ancaman pembunuhan dari para fans Queen garis keras—saya menyatakan bahwa Bohemian Rhapsody adalah film bagus, saya tidak keberatan nonton berkali...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *