Kemarin, ke 43 kalinya Nonton American Splendor

Mungkin ini salah satu film yang saya tonton berkali-kali, selain Arisan (Nia Dinata, 2003), Before Sunrise (Richard Linklater, 1995), dan Before Sunset (Richard Linklater, 2004). Tapi secara jumlah, film ini masih yang paling sering saya putar ulang. Kadang saya nontonnya sambil makan, sambil nyetrika baju, sambil nyuci baju (pakai mesin cuci, bukan laptopnya dibawa ke kamar mandi).

Nggak tahu ya, apa yang bikin saya suka banget sama film ini… hmm… mungkin caranya bercerita, mungkin juga… ceritanya? ya, film yang disutradarai oleh Shari Springer Berman dan Robert Pulcini ini rilis tahun 2003. Secara cerita sebenarnya film ini “hanya” bercerita tentang kehidupan seorang laki-laki bernama Harvey Pekar (Paul Giamatti), yang juga merupakan penulis kumpulan komik American Splendor.

Dalam film ini diceritakan, bagaimana si Harvey itu hidup, bagaimana sampai akhirnya dia menulis komik American Splendor itu, bagaimana dia ketemu istrinya Joyce Brabner (Hope Davis), bagaimana dia kena kanker dan berjuang melawannya, dan banyak lagi. Disana-sini dimasukkan visual komik hingga rasanya si gambar tampak tidak biasa, dan juga disertai score musik-musik swing jazz (bagian yg paling saya suka adalah scene yang diiringi lagu-lagu Jay McShann, wuhuu… keren!). Juga (ini yang unik), narasi film ini dibawakan langsung sama Harvey Pekar dan tidak lupa visual dia muncul juga, hehe… lucu aja kalau ngeliat dia ngomentari film waktu filmnya lagi main, beberapa malah ngejek

Terus yang saya suka dari film ini mungkin adalah, kesederhanaan cerita (nggak terlalu pengen nyeritain semua hal sekaligus, jadi diambil yang penting-pentingnya aja), jadi saya nggak perlu mengerutkan kening hanya untuk memahami cerita.

Tapi mungkin ini yang utama: ceritanya gue banget!

Ya… mungkin perasaan ini juga yang bakal melingkupi sebagian besar penonton film ini (atau justru tidak?), ah.. apapun lah, yang pasti tanpa bermaksud jadi hero, film ini memotret seorang kreatif bernama Harvey Pekar yang jadi orang biasa dan selalu merasa diri sebagai orang biasa (dia selalu merasa jadi orang biasa, bukan berusaha menjadi orang biasa… itu beda lho.) meski dia sudah masuk TV, meski ada teman kampusnya yang bilang bahwa dia terkenal, banyak yang baca ulasan-ulasan komiknya, dll…

Potret Harvey Pekar adalah potret seseorang yang punya harapan, dia bekerja, tapi dia tidak memperhatikan hasil. Dia setia menjalani pekerjaannya, yang ada di otak dia cuma… yang penting aku berbuat sesuatu deh, soal hidup sih gimana nanti aja… hmm… nggak semua orang setuju dengan konsep ini, tapi minimal… saya setuju lah…

Dan terus terang, seringkali saya merasa hidup jadi bersemangat lagi begitu selesai nonton film ini…[]

aaa

aaa

 

Share This:

Related posts:

Prisia, yang Eksotik...
Udah lama banget ya saya nggak ngupdate web ini, termasuk melanggar juga jadwal rutin ngupdate cewek of the week :D haduh... ya udah deh saya update sekarang. Pilihan saya minggu ini adalah Prisia Nas...
Rumah Putih #1: Berharap Pada yang Bangkit dari Kubur
Cerita tentang mayit yang bangkit dari kubur, yang kini mendominasi sinetron “religius”, pernah juga merajai tema film Indonesia tahun 1980-an. Namun, bangkitnya mayit itu ternyata membawa “pesan” yan...
Buried, Film Panjang dengan Satu Aktor!
Wew, satu kata buat film ini: Briliant! Serius, tadinya saya merasa agak pesimis ketika ada teman yang menyarankan  nonton. Itu karena saya berpikir: apa mungkin ada film yang enak ditonton 90 menit, ...
Rumah Putih #3: Indonesia tak Pernah Memilih
“Indonesia memilih….” teriak Atta dan Irgi, lalu mereka diam, menyebarkan suasana tegang ke seluruh arena. Kamera mensyut wajah Mike, Judika, lalu menjauh, menyorot empat sosok itu. Sesaat kemudian, k...
Rumah Putih #5: Ketika Peranan Menjadi Diri
Seberapa dalamkah sebuah peran merasuki hidup seseorang? “Beberapa hari setelah usai syuting, aku masih merasa diriku ini orang lain. Butuh waktu lama bagiku untuk keluar dari karakter yang aku perani...
Menguak Korelasi Triangle Composition dan Majas Pars Pro Toto dalam A Letter For Mommy
Setiap akan mengulas sebuah film, saya selalu berpegang pada kata-kata Ekky Imanjaya. Dalam sebuah wawancara yang termuat di cinemapoetica (16/02/2016) ia berkata bahwa setiap film memiliki yang naman...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *