School of Rock vs Garasi (Aspek-Aspek Film Beginian!)

school_of_rock_movie_poster_pMungkin kata “beginian” di judul rasanya malah abstrak ya? tapi maksud saya adalah film yang, “beginian”… hehe, ummm… Duh gimana ngejelasinnya ya? Pokoknya kata “beginian” itu mengacu pada film yang menceritakan terbentuknya sebuah tim/kelompok dan bagaimana mereka berkembang hingga meraih sukses.

Tema-tema begini sudah banyak di Hollywood, misalnya (yang tema-tema olahraga dulu aja ya) film “Coach Carter” (Thomas Carter, 2005) atau “Rebound” (Steve Carr, 2005), yang keduanya ngomongin soal tim basket yang terpuruk dan bangkit lagi. Dalam kedua film itu, kita bisa lihat gimana sistem latihan mereka? gimana sih cara main basket itu? atau apa saja yang diperlukan dalam basket? formasinya apa aja? ditambah tentu saja adegan-adegan pertandingan yang seru dan penuh drama.

Oke, pertanyaannya… gimana kalau film ini bicara tentang musik? dan kenapa harus “School of Rock” (Richard Linklater, 2003) serta Garasi (Agung Sentausa, 2006) yang dijadikan contoh? Ah, sederhana aja, ini alasannya:

Pertama, iseng aja nyabut kedua judul itu. Kedua, saya baru nonton School of Rock kemarin malam (dan diulang 4x biar mantap!), lalu langsung ingin membandingkannya dengan film Indonesia yang bertema mirip-mirip, dan ternyata saya tidak bisa menemukan film lain selain Garasi. lalu alasan ketiga: Saya baru nyadar, memangnya Indonesia pernah bikin film bertema “tumbuhnya sebuah grup musik dari nol persen menjadi seratus persen?” kalau ada saya minta judulnya!

Nah, setelah saya menonton kedua film itu, saya menyimpulkan ada dua hal yang harus dipenuhi oleh sebuah film “beginian” hehe… (apa atuh namanya ya? “film pertumbuhan” gitu?). Kedua hal itu adalah:

aaa

Proses Menciptakan (Musik)
Maksudnya begini, kalau kita mau ngomongin tim olahraga, ya harus ada dong adegan pelatih yang ngomongin intruksi ke pemain, atau misalnya rapat soal sistem permainan sama asistennya, contohnya di film “We Are Marshall” (Joseph McGinty Nichol, 2006). Ini film tentang American Football, jadi ada adegan si pelatih Jack Lengyel akhirnya memutuskan nggak akan memakai formasi favorit dia “Power I” dan mau ganti dengan formasi yang ternyata lebih cocok dengan timnya. Proses menciptakan keputusan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari film, kalau bagian ini dibuang jelas film jadi kurang terasa football nya.

Nah, artinya kalau ini film tentang grup musik… tentu harus ada juga scene yang menceritakan bagaimana cara memilih tiap anggota tim, bagaimana cara grup band itu bikin musik, membuat lagu, membicarakan chord gitar yang dipakai, kenapa lirik ini harus diganti, kenapa si anu yang jadi gitaris? bassist,  vokalis, dan sebagainya. Lebih jauh lagi kalau bisa ada scene yang membicarakan kostum, tata lampu, tata suara, tempat manggung mereka dan kenapa tempat manggung itu yang dipilih.

Ini penting karena perjalanan sebuah grup musik tentu tidak lepas dari semua hal ini, maka film yang bagus harus memotret ini dengan baik. Jadikan penonton percaya bahwa alasan si kelompok musik ini bagus karena mereka sudah kerja keras, apa kerja kerasnya? oh karena mereka melakukan ini, ini, dan ini.

Aneh dong kalau misalnya tahu-tahu setelah beberapa scene ga jelas, tiba-tiba mereka terkenal di TV atau albumnya sold out, kok bisa masuk TV? kok bisa bikin album rekaman? apa alasannya? se-komedi apapun film itu pasti penonton akan bertanya tentang kelogisan cerita

aaa

Lagunya Harus Enak Didengar
Aspek kedua ini yang agak-agak susah. Hehe… Sekali lagi, ini bukan film musikal yang menjual musik. Sebab kalau bicara film musikal kita harus menaruh pujian pada “Petualangan Sherina” (Riri Riza, 2000) yang lagunya masih enak didengar sampai sekarang. Tapi ini adalah film tentang suksesnya sebuah grup musik. Nanti akan muncul rangkaian pertanyaan: Kenapa mereka sukses? karena banyak penggemarnya. Lho, kenapa mereka banyak digemari? Karena lagunya enak didengar!

Jadi sulitnya bikin film “beginian” adalah harus disiapkan lagu yang enak didengar sehingga (kembali pada kelogisan cerita) penonton bisa menerima fakta bahwa di ending si grup band itu jadi terkenal karena “Oh.. wajar lah lagunya juga enak kok.”

aaa

School of Rock vs Garasi
Ada teman yang bilang “Sudahlah, nggak perlu membandingkan film kita sama Holywood, kelasnya sudah jauh beda!”

Oke, oke… saya juga tidak bermaksud membandingkan kedua film ini dari segi teknis film. Saya hanya membandingkan dua hal penting yang sudah kita bahas tadi. Ini juga karena (salah sendiri!) film Garasi jelas-jelas mengklaim diri sebagai film tentang band indie, jadi tidak salah kalau saya cek “Bener nggak ini film tentang sebuah grup musik?”

Untuk membandingkannya saya tidak akan mengutarakan pendapat sendiri, karena ternyata pendapat saya sama dengan teman-teman di situs sinema-indonesia, sebuah situs review film terkeren yang pernah ada di Indonesia (sayangnya sudah mati, ga ada yang mau lanjutin nih?).

Inilah beberapa kutipan pendapat mereka tentang film Garasi:

  • …yang penting gimana detil dan eksplorasi karakternya. Tapi ada nggak detil tentang orang bikin band di film ini? Ada nggak gimana anggota Garasi berdebat ngomongin sound mereka mau kayak apa? Nggak ada tuh. Yang ada malah elemen cemen kayak material sinetron
  • Kata yang tepat untuk menggambarkan film Garasi adalah: artifisial. Ketimbang mengeksplorasi bagaimana jiwa band-band indie yang sebenernya
  • Lagu-lagu yang dibikin oleh Andy Ayunir bersama ketiga aktor utama film ini memang lumayan bagus. Tapi saya nggak percaya kalau lagu-lagunya sampai bisa membuat orang-orang nge-fans sama mereka
  • …sampe para wartawan nungguin di depan rumah personel Garasi sampe mereka nggak bisa keluar rumah? Kayaknya cuman satu band deh yang bisa dapet perhatian kayak gitu. Dan namanya The Beatles

aaa

Kelupaan… Ada Satu Aspek Lagi!
Hmm… berarti saya ketinggalan satu hal, yaitu soul! jiwa dari musik yang diusung band itu harus tercermin dari film. Kalau di School of Rock saya pastikan hal itu ada, misalnya di sebuah scene ketika Dewey Finn (Jack Black) ngomong ke Freedy Jones (Kevin Clark). Di sana intinya dia ngomong: musik rock itu bukan berarti mabuk atau jadi berandalan, tapi jiwanya!

Keren! itu sama saja dengan seorang teman saya, anak teater yang pernah bilang “Kata siapa  anak teater dan seniman harus gondrong dan kucel? kita ini artis, harus rapih dan wangi terus…”

Yah… ini sih masukan saja buat teman-teman yang mau buat film “beginian” (atau mungkin bikin novel saja deh, jangan film). Tolong perhatikan apakah karya kita itu sudah memotret apa yang dilakukan tiap tokohnya atau belum? kalau belum pasti ada yang salah dengan cara kita mengeksplorasi tema… (Ah, kok jadi seriusan dan sok menasehati gini! Parah!)

Oh iya… satu lagi… lagu-lagu di film School of Rock itu lumayan enak-enak kok. Itu bikin saya percaya mereka bisa jadi grup rock papan atas. Salah satunya yang berjudul “Rock Academy” silahkan dilihat sendiri disini (keselip bahasa Spanyol dikit gpp kan? hehe…) atau mau versi live nya disini

Bonus deh… credit title yang bikin saya ketawa ngakak guling-guling (videonya 6 menit gpp kan?) Judulnya “It’s a Long Way To the Top If You Wanna Rock and Roll” lihatnya disini (sori kualitas videonya butut, saya ga bisa nemu yang bagusnya sih… ada yang mau ngasih link yang bener?)[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Superhero Indonesia Go Internasional
Sepanjang tahun 2010-2011, bioskop kita banyak diserbu sama film-film superhero!  misalnya saja Kickass (Matthew Vaughn, 2010), Iron Man 2 (Jon Favreau, 2010), Jonah Hex (Jimmy Hayward, 2010), The Gre...
Meneliti Industri Film Porno (Asia & Indonesia)
Tanpa bermaksud mengesampingkan negara lain, bila bicara film porno Asia maka negara Jepang lah yang perlu dikedepankan. Ternyata era industri film porno Jepang (biasa disebut JAV atau Japan Adult Vid...
Agni, the Loveable...
Sudah lama nggak ngupdate cewek of the week, alasan pertama karena migrasi server, alasan kedua karena lupa terus! Aduh ini otak memang sudah mendekati pikun. Padahal harusnya ini saya update seming...
Rumah Putih #4: Ketika Rok Prisia Tersingkap
Dapatkah seorang aktris menafikan kehadiran orang lain ketika dia dituntut untuk merasa sendiri? Prisia Nasution akan menjawab, “Tidak.” Bermain dalam Gala Sinema SCTV “Cinta tak Pernah Salah”, Pris...
Rumah Putih #5: Ketika Peranan Menjadi Diri
Seberapa dalamkah sebuah peran merasuki hidup seseorang? “Beberapa hari setelah usai syuting, aku masih merasa diriku ini orang lain. Butuh waktu lama bagiku untuk keluar dari karakter yang aku pera...
Kapan Sebuah Film Selesai?
Kapan sebuah film dianggap selesai? Beberapa orang nganggapnya pas film itu selesai diedit, beberapa orang lagi nganggapnya pas film premiere. Bahkan—ini yang konyol—beberapa orang ngira film selesai ...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.