Nasi Goreng “Papua”

Sambungan dari “Nasi Goreng Naga

Tukang nasi goreng kedua yang saya jauhin letaknya ada di sebelah timur base-camp, tepatnya di depan sebuah rumah sakit. Nah, kalau yang ini saya curiga, jangan-jangan memang pedagangnya baru keluar dari rumah sakit atau mungkin efek tiap hari lihat ambulance keluar masuk gerbang hingga keseimbangan otaknya diragukan!

Jadi malam itu saya makan sama temen, sama-sama lagi ngedit juga. Malam ini adalah malam terakhir kita barengan karena besok temen saya itu mau pergi ke luar negeri… ke Papua.

Berhubung ada momen spesial begitu, yang biasanya kalau makan kita cari nasi goreng tanpa embel-embel apa-apa. Paling juga pake telor dadar, kerupuk, sama suiran ayam kan? Tapi karena ini malam jadian terakhir kita, maka kita pengen lah makan nasi goreng yang rada beda. Nah, kebetulan di spanduk nasi goreng itu saya lihat ada kata “NASI GORENG KAMBING”.

Nah, buat yang belum tahu, sebenarnya kalau melihat kalimat “Nasi Goreng Kambing”, maka yang terbayang di otak saya adalah  “makanan enak”. Ini faktor cuci otak yang sukses dari sebuah iklan radio yang saya denger tiap malam!

Jadi perna kejadian waktu SMP, selama dua minggu saya dengar iklan “nasi goreng kambing” di jam yang sama. Iklan yang diulang-ulang (ditambah iklannya memang bagus) membuat benda bernama “nasi goreng kambing” terimajinasikan enak banget. Meski faktanya, saya sudah beberapa kali makan nasi goreng jenis itu, dan merasa biasa-biasa saja, tapi efek cuci otak tadi ternyata belum hilang juga. (Ha, akhirnya saya ngerti inti iklan yang berseliweran di sekitar kita: iklan adalah sarana cuci otak yang terselubung!)

Kembali ke cerita, setelah saya pesen, lihat bentuknya, dan mulai makan, saya pikir rasanya standar-standar saja kaya tukang nasi goreng tenda yang lain. Selesai makan saya nanya sama si mamangnya “Dua berapa?”

Dan dia jawab dengan muka lurus

“Empat puluh delapan ribu!”

Saya ngangkat alis, ini ngajak berantem apa gimana? Serius, bukan masalah duit… duit sih banyak! Tapi logikanya ada di sebelah mana kalau nasi goreng dengan daging kambing segede upil dihargai segitu? Kalau daging kambingnya satu kambing utuh mungkin masih ridho.

Atau sebenarnya saya saat itu sedang nyasar ke Papua? Mungkin tadi saya pilih pintu keluar yang salah sehingga masuk mesin waktu dan akhirnya terdampar di Papua? Sebab saya pernah baca ada satu postingan di kaskus yang bilang kalau di Papua itu harga nasi + telor dadar di warteg itu 20 ribu, dan nasi goreng sekitar 40 ribu-an.

Saya celingukan, tapi dari semua yang terlihat saya yakin ini masih di Bandung!

Ya gimana dong, memang masih di Bandung. Terus nasinya juga sudah dimakan. Ya saya tetap bayar nasi goreng ala“Papua” itu. Tapi saya merasa cukup sekali aja makan di situ. Karena bukan hobi saya “dirampok” malam-malam sama tukang nasi goreng. Heu… []

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Balada Nasi Goreng
Kerja sebagai editor bikin saya sering nginep di kantor, terutama pas deadline datang. Sekadar catatan: deadline sebenarnya lebih parah dari jelangkung. Karena Jelangkung nggak pernah ngerjain kita (...
Nasi Goreng "Kuntilanak"
Sambungan dari "Nasi Goreng Papua" Nah, nasi goreng ketiga yang saya jauhi adalah nasi goreng di sebelah utara base-camp. Jadi yang ini ceritanya waktu saya dan teman-teman kepentok deadli...
Angkringan dan Demokrasi
Sudah tiga hari ini saya ada di Yogyakarta, ikut workshop penyutradaraan. Nanti aja deh cerita soal workshopnya, sekarang saya cuma mau cerita soal gerai makanan khas Yogya yang namanya ANGKRINGAN. S...
Ini Indomaret di Surga!
Saya belum pernah merasa sebahagia ini ketika masuk Indomaret. Oh, sebelum dilanjut… penyebutan Indomaret ini sama sekali bukan iklan, kebetulan saja toko yang saya masuki adalah Indomaret. Kalau misa...
Berkarya di Balik Jeruji
Dalam film Shawshank Redemption (Frank Darabont, 1994), tokoh Red berkata dalam sebuah narasinya: “Dalam penjara waktu terasa sangat panjang. Semua orang harus mencari sesuatu untuk membuatnya sibuk, ...
Merajut Mimpi Lewat Singkong dan Pisang
Singkong dan pisang, sebuah bahan makanan yang cenderung dianggap tradisional dalam budaya bangsa Indonesia, sehingga dalam artian tertentu kedua makanan ini seolah telah habis varian-variannya karena...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

3 thoughts on “Nasi Goreng “Papua”

Leave a Reply

Your email address will not be published.