Nasi Goreng “Naga”

Sambungan dari “Balada Nasi Goreng

Nasi goreng di urutan pertama yang saya jauhin adalah seorang mamang nasi goreng yang mangkal di sebelah barat base-camp!

Sebenarnya sudah lama agak curiga, bahwa pada hari saya menemukan si mamang itu, sebenarnya feng sui menunjukkan kesialan kalau saya pergi ke barat, tapi gue ngeyel. Jadilah saya kejebak SUPERTRAP!

Jadi ceritanya, malam itu saya berjalan ke arah barat (berasa Wiro Sableng, “Ijinkan aku berjalan ke arah barat, Guru!). Arah barat adalah wilayah dimana saya akan ngelewatin beberapa tukang nasi goreng yang penuh banget sama para mahasiswi cakep yang lagi bareng sama piarannya. Satu mahasiswi, satu piaraan. Kadang mereka lagi ketawa-ketawa, kadang lagi ngobrol biasa, kadang lagi suap-suapan

(Duh, sial banget para mahasiswi itu! mereka terpaksa nyuapin—atau disuapin—sama piaraan mereka, sementara ada satu cowok asli lagi keliling-keliling nyari tukang nasi goreng.)

Masalahnya saya nggak suka makan di tempat yang penuh piaraan, jadi saya memilih tukang nasi goreng yang sepi. Ketemulah satu warung tenda yang kosong, dan saya belok ke sana. Selanjutnya standar deh, pesen nasi goreng, duduk nunggu, lalu nasi gorengnya datang.

Masalahnya dimulai ketika nasi goreng itu datang. Saya inget banget kalau pas pesan tadi sudah ngomong “Jangan pedes ya!”, tapi di suapan pertama tiba-tiba kepala rasanya kaya dibakar. Sialan! Saya memang nggak tahan pedes. Karena itulah sistem pencernaan saya pun sudah adaptasi sama kondisi itu.

Maka ketika saya makan nasi goreng yang berpotensi merubah saya jadi naga (beneran kalau saya menjelma jadi naga yang bisa nyemprotin upil api dari hidung, yang gue bakar pertama adalah tukang nasi goreng yang ini!), maka pikiran saya cuma dua: apakah besok saya mencret seharian, atau besok seharian saya bakal mencret! (Apa bedanya?)

Intinya, setelah hari itu (dan tiga hari setelahnya) hidup saya nggak ada pilihan selain bersiap membanjiri kloset dengan tinja cair hanya karena kuping tukang dagangnya nggak beda ngebedain kata “Jangan” dengan kata “Yang”.

Mungkin ada yang nanya: kok nggak protes langsung sama tukang jualnya? Saya jawab begini: sebenarnya saya kasihan. Ini adalah tempat nasi goreng paling sepi diantara jajaran nasi goreng yang lain, Pasti dia dari tadi nunggu pembeli sambil nyumpahin tukang nasi goreng yang lain. Soalnya memang mukanya seneng banget pas saya masuk sana.

Atau mungkin karena seneng itu ya maka dia niat ngasih hadiah berupa sambel ekstra gratisan?

 aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Nasi Goreng "Papua"
Sambungan dari "Nasi Goreng Naga" Tukang nasi goreng kedua yang saya jauhin letaknya ada di sebelah timur base-camp, tepatnya di depan sebuah rumah sakit. Nah, kalau yang ini saya curiga, j...
Nasi Goreng "Kuntilanak"
Sambungan dari "Nasi Goreng Papua" Nah, nasi goreng ketiga yang saya jauhi adalah nasi goreng di sebelah utara base-camp. Jadi yang ini ceritanya waktu saya dan teman-teman kepentok deadli...
Angkringan dan Demokrasi
Sudah tiga hari ini saya ada di Yogyakarta, ikut workshop penyutradaraan. Nanti aja deh cerita soal workshopnya, sekarang saya cuma mau cerita soal gerai makanan khas Yogya yang namanya ANGKRINGAN. S...
Catatan Bontang #1: Langit Bontang, Juara!
 “Aku menyukai langit. Kamu bisa memandanginya sesukamu dan tidak pernah bosan, tapi ketika kamu merasa sedang tidak ingin memandanginya, ya kamu tidak usah memandangnya.” Saya membaca kalimat itu da...
Berkarya di Balik Jeruji
Dalam film Shawshank Redemption (Frank Darabont, 1994), tokoh Red berkata dalam sebuah narasinya: “Dalam penjara waktu terasa sangat panjang. Semua orang harus mencari sesuatu untuk membuatnya sibuk, ...
Merajut Mimpi Lewat Singkong dan Pisang
Singkong dan pisang, sebuah bahan makanan yang cenderung dianggap tradisional dalam budaya bangsa Indonesia, sehingga dalam artian tertentu kedua makanan ini seolah telah habis varian-variannya karena...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

One thought on “Nasi Goreng “Naga”

  • 10/08/2014 at 20:04
    Permalink

    wih, hebat…menahan pedas untuk kebahagiaan kang nasi gorengnya 😀 rela berkorban gitu

Leave a Reply

Your email address will not be published.