Balada Nasi Goreng

Kerja sebagai editor bikin saya sering nginep di kantor, terutama pas deadline datang.

Sekadar catatan: deadline sebenarnya lebih parah dari jelangkung. Karena Jelangkung nggak pernah ngerjain kita (datang nggak dijemput, pulang nggak diantar). Tapi deadline pasti datangnya harus diantar (tanggal deadline itu kan biasanya sudah ada di kontrak kerja), terus pulangnya juga pasti dianterin (pas deadline beres kan biasanya kerjaan mesti dianterin sendiri ke client). Makanya kurang ajar banget kan dia!

Selain itu, bentuk deadline juga bisa lebih serem dari jelangkung. Kalau jelangkung kan wujudnya nggak ada lagi selain batok kelapa yang dikasih batang kayu. Kenapa benda kaya gitu aja bikin takut? Kenapa orang segede Roni Dozer sampe terkencing-kencing sama benda yang sekali injek juga remuk? Dan kenapa di film itu nggak ada adegan mandi di pantai kaya film-film Warkop? Ah sudahlah!

Nah sekarang coba sekarang tebak, apa sih bentuk deadline? Wujud deadline ada dua, pertama si client. Orang ini akan menekan kita buat beresin kerjaan karena dia perlu barang, tentu dengan ancaman tak tertulis yang menyebutkan: kalau ini barang nggak beres saya nggak mau bayar! Nah, ancaman dari client akan melahirkan wujud kedua yaitu: Boss. Orang ini akan menekan kita buat beresin kerjaan, karena kalau barang itu nggak beres maka maka duit nggak akan datang, artinya dia nggak akan kebagian duit juga.

Nama gue Hendra Purnama, nama dia Nikita Purnama Willy... masih ada yang menyangkal betapa berjodohnya kita?
Nama saya Hendra Purnama, nama dia Nikita Purnama Willy… masih ada yang menyangkal betapa berjodohnya kita?

Dengan tekanan dua orang itu (dan asumsi saya masih butuh duit buat ngelamar Nikita Willy) maka wajar kalau saya nganggap serius deadline, jadi kalau perlu sampai nginep ya nginep saja deh, yang penting kerjaan beres.

Setiap saya nginep di base camp, makanan pokok saya adalah nasi goreng. Ah, saya yakin bukan cuma editor film, tapi mahasiswa, orang kantoran, artis, dan berbagai spesies manusia pasti pernah makan nasi goreng, bahkan suka nasi goreng. Kecuali anggota DPR, mereka sukanya makan rejeki orang (curhat!).

Menurut saya, nasi goreng adalah makanan paling praktis di dunia. Ada nasi, ada goreng. Jadilah nasi goreng (Mungkin sekarang kalian pada ngerti kenapa saya nggak pernah bisa menang lomba Masterchef tingkat RT setiap tujuhbelasan).

Eh, beneran… mau digimanain juga, dikasih keju, kornet, ketimun, cabe rawit, bawang bombay goreng, telur burung unta, daging badak, atau oli rebus sekalipun, buat gue cuma beda di toppingnya saja. Tetep aja komponen utamanya adalah nasi, dan… goreng!

Nasi goreng pun termasuk jenis makanan yang penyajiannya cepat, meski tetap saja tergantung pada siapa yang masak, karena saya nggak yakin Wolverine bisa masak nasi goreng dengan cakar adamantium yang terus bermunculan dari tangan. Faktor cepat-lambatnya penyajian juga sebenarnya tergantung pada campuran apa yang dimasukannya. Karena nasi goreng stegosaurus tulang lunak pasti lama masaknya, daging mereka keras. (Nggak percaya? Cari aja peternakannya.)

Oke, karena segala kepraktisannya itu maka nasi goreng adalah obat penyembuh lapar paling praktis, dan saya suka itu. Anehnya, mungkin Asosiasi Tukang Nasi Goreng Indonesia (ATNGI) sudah menyebar mata-mata dan mereka berhasil mendeteksi keberadaan saya. Karena faktanya, setiap saya nginep di base-camp maka  para tukang nasi goreng akan mengepung kantor! Jadi ke arah manapun saya berusaha menyelamatkan diri, maka di delapan penjuru mata angin minimal ada tiga tukang nasi goreng yang teriak-teriak minta dibeli.

Semua tukang nasi goreng itu sudah pernah saya COBAIN (yah pokoknya begitu deh! nggak bisa nemuin kalimat yang pas, jadi pake kalimat itu saja meski terkesan homo!). Tapi ada tiga tukang nasi goreng yang sukses bikin saya mengucap janji di bawah setumpuk komik Naruto untuk nggak akan beli di sana meski mereka adalah tukang nasi goreng terakhir di dunia.

Lanjut disini ceritanya: “Nasi Goreng Naga

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Tips Cari Makan di Tempat Wisata
Berita soal ada pengunjung yang terjebak makan dengan harga sejuta di pantai Anyer, Karang Bolong sudah pernah kita dengar. Iya sih gimana nggak bikin heboh, dihitung sebagai tempat wisata saja harga ...
Angkringan dan Demokrasi
Sudah tiga hari ini saya ada di Yogyakarta, ikut workshop penyutradaraan. Nanti aja deh cerita soal workshopnya, sekarang saya cuma mau cerita soal gerai makanan khas Yogya yang namanya ANGKRINGAN. S...
Ayo Mulai di Yogyakarta!
Yogyakarta adalah sebuah kota yang selalu berubah di mata saya. Bahkan setiap kali ke sana, saya selalu bertanya begitu keluar dari stasiun atau bandara “Kali ini kamu jadi kota macam apa?” Ini bukan...
Ini Indomaret di Surga!
Saya belum pernah merasa sebahagia ini ketika masuk Indomaret. Oh, sebelum dilanjut… penyebutan Indomaret ini sama sekali bukan iklan, kebetulan saja toko yang saya masuki adalah Indomaret. Kalau misa...
Bersastra dan Bersantai di Rumpun Ariadinatan
Selain dikenal sebagai kota pelajar, Yogyakarta juga identik dengan kota budaya dan kota pariwisata. Berbagai hal yang berkaitan dengan dua hal tersebut dapat kita temui di kota ini. Mulai dari soal k...
Berkarya di Balik Jeruji
Dalam film Shawshank Redemption (Frank Darabont, 1994), tokoh Red berkata dalam sebuah narasinya: “Dalam penjara waktu terasa sangat panjang. Semua orang harus mencari sesuatu untuk membuatnya sibuk, ...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.