Quarantine, Film Yang “Agak Nendang”

41ALPz1NmKLAwalnya saya dijebak sama temen di kantor, dia bilang punya film bagus dan habis kerja ngajak nonton, akhirnya pas kerjaan beres jam 4 sore, saya bela-belain nggak pulang, nungguin dia yang lagi ada urusan dulu sampe jam 7 malam. Lalu pas jam 7 dia dateng, dan ngeluarin film itu dari tasnya.. JREEENG!! “Ini filmnya…”

Saya ngeliatin cover film itu dan nanya polos “Ini horor ya?”, Dia nyengir dan jawab “Iya…”

Emh.. buaguuss buaguuss… nyuruh nunggu 3 jam cuma buat nonton horor! Tapi demi persahabatan akhirnya saya nelepon “mantan pacar” di rumah dan bilang bakal telat pulang, saya bilang diculik sama temen (untung dia ngerti…). Apalagi dengan wajah memelas si teman itu bilang kalau dia juga nggak berani nonton ini sendirian, oh.. betul kata matematika psikologis, 1 orang takut + 1 orang takut = 2 orang berani, maka jadilah kami nonton film itu di TV 70″, dengan kondisi lampu dinyalain (ternyata kami berdua memang penakut ya) …

Eh, ternyata setelah nonton, saya nggak terlalu menyesal juga. Dengan referensi film horor saya yang sangat sedikit sekali, rasanya tetap saja film ini beda. Apa saja yang bikin saya bisa enjoy?

  • Pertama: soal setting, film ini praktis cuma pakai 3 tempat (kantor pemadam kebakaran, jalan, sama sebuah gedung apartemen lantai 4), jadi kita sebagai penonton juga ga disuguhi kebingungan akan lokasi. Tapi bukan berarti ini unik banget atau apalah, soalnya banyak juga film horor atau thriller yang lokasinya simple, When a Stranger Calls (Simon West, 2006) juga setting tempatnya sedikit.
  • Kedua: Jalan ceritanya efektif (rasanya sebagian besar film horor luar negeri memang selalu efektif), tanpa bermaksud spoiler saya ceritakan sedikit aja disini:

Jadi cerita dimulai ketika seorang reporter yang namanya Angela Vidal (Jennifer Carpenter) dan Scott Percival (Steve Harris) sebagai kameramen TV, disuruh bikin liputan taping yang ringan tentang kehidupan malam di kantor pemadam kebakaran, di sana mereka ketemuan sama Fletcher (Johnathon Schaech)–saya dan teman saya sepakat menyebutnya Fletcher ini “si kumis” biar ga lupa–dan Jake (Jay Hernandez), keduanya anggota pemadam kebakaran.

Nah, yang namanya liputan otomatis harus ikut kemanapun narasumber pergi. Jadilah malam itu mereka ikut naik ke mobil pemadam menuju satu apartemen yang katanya “sedang ada gangguan” yang bukan kebakaran (baru tahu kalau di Amrik sana kalau orang nelepon 911 biasanya yang datang 1 paket polisi, pemadam kebakaran, sama ambulance rumah sakit). Sampai sana mereka ketemuan lagi sama pengurus apartemen yang namanya Yuri (Rade Serbedzija), dua orang polisi yang namanya James (Andrew Fiscella) serta Danny (Columbus Short).

Ternyata masalahnya ada di lantai dua, dia kamar seorang nenek yang namanya Mrs. Espinoza (Jeannie Epper), dia jerit jerit gitu, dan ketika pintu didobrak ternyata mereka ngeliat si nenek itu lagi berdiri, berlumuran darah, mulutnya berbusa, tapi masih hidup! Pas dideketin mau ditenangkan, nenek itu mendadak ngegigit James! sampai nenek itu harus dilumpuhkan sama si Fletcher. Singkat cerita James yang luka dibawa ke lantai dasar. Eh, ternyata sampai di sana mereka semua mendapati fakta bahwa pintu dan jendela semua dikunci dari luar sama polisi, praktis mereka ga boleh keluar, mereka dikarantina (bahkan sampai SWAT juga datang, dan ada sniper ngejaga tiap jendela…), yaa… mereka bingung lah… ada apa sih ini?

Yah, pokoknya ceritanya gitu deh, tentu mereka juga ketemuan sama penghuni apartemen yang lain (yang sama-sama bingung), dan… seterusnya nonton sendiri menurut saya ini cerita yang efektif sih, langsung ke pokok masalah, ga pake penjelasan latar belakang. Bahkan nanti pas sudah mau ending, ada sih penjelasan latar belakang, tapi nggak pake dialog atau flashback, cuma pake guntingan koran sama klipping yang di-take sekitar 30 detik (cerdas, sangat efektif)…

  • Ketiga: sepanjang cerita sudut pandangnya orang pertama, ini keren banget! Jadi semacam main game first person shooter, dimanan kita nonton film dari sudut pandang kameramen. Wow! jadi sepanjang film itu si Angela terus mereportase setiap kejadian, ikut lari-larian kalau ada yang seru, ikut ketakutan dan sebagainya, itu semua bisa kita lihat dari kamera si Scott, ini sih beneran jadi seperti kita yang terlibat di sana. Gimana ngomonginnya ya? pokoknya kaya kita ngeliat layar kamera dan mereportase kejadian secara non stop. Ngg… kalau bingung mending nonton aja deh…
  • Keempat: seperti biasa, saya menghargai kejujuran. Jadi film ini sebenarnya remake dari sebuah film spanyol yang judulnya Rec (Jaume Balagueró, 2007), dan itu dengan nggak malu-malu mereka tampilkan di akhir. Kejujuran ini jelas harus dikasih applaus. Kejadian ini mirip dengan film Home Run (Jack Neo, 2003) yang me-remake Children of Heaven (Majid Majidi, 1999), informasi bahwa filmnya hasil remake juga juga ditampilkan, bahkan Home Run sih tampilnya di awal.

Oh iya, akhirnya saya juga sudah nonton film Rec, dan saya pikir sebenarnya Rec dua kali lebih serem daripada Quarantine, lho. Atmosfir horornya lebih kerasa, mungkin karena versi aslinya ya? Meski harus saya akui kalau tokoh reporter Angela Vidal versi Quarantine (Jennifer Carpenter) tampil lebih seksi dari versi Rec (Manuela Velasco) Tapi kan kita nonton horor bukan buat ngeliatin reporter seksi!. Nah, jadi buat yang mau nonton, saya sarankan cari film Rec aja deh, rasanya lebih “nendang”. Karena kalau Quarantine sih levelnya baru “agak nendang”… mungkin karena Hollywood yang bikin. Dasar Holywood, Yahudi! #EH[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Meneliti Industri Film Porno (Asia & Indonesia)
Tanpa bermaksud mengesampingkan negara lain, bila bicara film porno Asia maka negara Jepang lah yang perlu dikedepankan. Ternyata era industri film porno Jepang (biasa disebut JAV atau Japan Adult Vid...
[Rumah Putih #1] Berharap Pada yang Bangkit dari Kubur
Cerita tentang mayit yang bangkit dari kubur, yang kini mendominasi sinetron “religius”, pernah juga merajai tema film Indonesia tahun 1980-an. Namun, bangkitnya mayit itu ternyata membawa “pesan” y...
Charlene Choi, Kamu Cocok Buat...
Setelah nyaris sebulan blog saya vakum—meski sebenarnya banyak bahan yang bisa ditulis—karena saya kebingungan: mana duluan yang harus ditulis. Tapi ternyata semuanya berubah karena seorang cewek, leb...
Kronik Sebuah Kota Tuhan
Dua hari yang lalu, selang-seling mengurus pekerjaan, saya untuk kesekian kalinya menonton film City of God (Fernando Meirelles, 2002), sebuah film Brasil yang bercerita tentang realita kehidupan jala...
Sedikit Tentang Genre Road Movie
Le Grand Voyage adalah sebuah film yang menceritakan perjalanan ayah dan anak dari Perancis menuju Arab Saudi. Singkatnya, sang ayah ingin naik haji dan minta diantar oleh putranya mengunakan mobil, m...
Chef: Hidup Kita di Tangan Kita
Saya baru selesai nonton film Chef (Jon Favreau, 2014), inti ceritanya soal seorang juru masak profesional di sebuah restoran ternama yang mengalami konflik hebat dengan seorang kritikus makanan—dan t...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.