Sedikit Tentang Genre Road Movie

Le Grand Voyage adalah sebuah film yang menceritakan perjalanan ayah dan anak dari Perancis menuju Arab Saudi. Singkatnya, sang ayah ingin naik haji dan minta diantar oleh putranya mengunakan mobil, melintasi sebagian Eropa dan Asia hingga masuk ke Mekkah.

Di dalam film itu kita bisa melihat pergolakan emosi, pertentangan ayah dan anak tersebut, gaya berpikir masing-masing yang jelas berbeda, sampai bagaimana dan kenapa masing-masing dari mereka bisa berubah. Semua itu dipotret dengan adegan sebuah perjalanan panjang. Sangat menarik. Dalam dunia perfilman, film yang bentuknya seperti ini sering digolongkan dalam genre road movie.

Sebenarnya meski sudah sejak era 1930-an muncul film bertema perjalanan, tapi genre ini pertama kali “diakui” sekitar tahun 1960-an, ditandai dengan munculnya film Bonnie and Clyde (Arthur Penn, 1967) yang menceritakan kisah nyata perjalanan dua perampok bank bernama Bonnie Parker dan Clyde Barrow. Lalu berikutnya ada film Easy Rider (Dennis Hooper, 1969) yang menceritakan dua orang pengendara motor sedang melakukan perjalanan sepanjang Amerika Selatan untuk mencari kebebasan.

Bila kita perhatikan, dari film-film seperti ini ada syarat mutlak yang tidak bisa diabaikan, yaitu sang tokoh “harus” melakukan perjalanan, dan otomatis plot cerita selalu berubah-ubah sesuai setting tempatnya.

Kalau di Indonesia, film bergenre ini rasanya masih sangat jarang. Beberapa yang terkenal adalah Banyu Biru (Tedi Soeriaatmadja, 2005) dan 3 Hari Untuk Selamanya (Riri Riza, 2007). Sementara film yang lain? Jarang terdengar, sebab kebanyakan film Indonesia memiliki pola setting satu tempat, atau kalaupun ada perpindahan tempat maka cerita akan berlangsung di tempat-tempat yang dituju dan bukan pada sesi perjalanannya.

aaa

Struktur Road Movie
Seperti yang dibahas di atas, salah satu ciri road movie yang paling kuat adalah cerita berlangsung dalam sebuah perjalanan. Tapi sebenarnya ada pola standar yang biasa dipakai dalam film berjenis ini, antara lain :

  • Setelah bertemu dengan tujuannya, tokohnya akan pulang dan menerapkan segala hal yang ditemuinya di perjalanan untuk hidup selanjutnya
  • Pada akhir perjalanan, tokoh justru menemukan rumah baru dan mendiami tempat itu
  • Perjalanan terus berlangsung tampa akhir
  • Dalam perjalanan, tokoh menemukan fakta bahwa dia tidak bisa pulang, maka dia memilih mati

Dengan struktur standar seperti ini, maka sebenarnya genre road movie tidak terbatas pada film yang menunjukkan perjalanan si tokoh dengan mobil saja, sebab yang penting adalah perjalanannya itu sendiri, di sini sudah tidak penting kendaraan apa yang digunakan si tokoh. Atau kalau mengacu pada kalimat para penggemarnya, film ini biasa digambarkan dengan: This isn’t about the destination, this is about the journey

Beberapa contoh genre road movie yang terkenal adalah : The Wizard of Oz (Victor Fleming, 1939), Apocalypse Now (Francis Ford Coppola, 1979), Dumb and Dumber (Peter Farelly, 1994), Saving Private Ryan (Steven Spielberg, 1998), The Dream Catcher (Edward A. Radtke, 1999), Children of Men (Alfonso Cuaron, 2006)

aaa

Road Movie, menarik untuk dicoba
Mungkin para filmmaker Indonesia masih terlalu banyak pertimbangan, terutama untuk urusan biaya ketika ingin membuat road movie. Karena memang faktanya berpindah-pindah tempat dan melakukan perjalanan selama syuting jelas memakan biaya yang tidak sedikit.

Tapi sebenarnya membuat road movie bisa jadi rekaman perjalanan yang menarik bagi penonton, karena salah satu kelebihan road movie adalah bisa menonjolkan keindahan dan budaya beberapa tempat secara langsung dengan tidak menimbulkan kesan bahwa itu semua hanya tempelan, sebab mau tidak mau ketika kita memotret sebuah perjalanan lewat kamera, budaya daerah itu akan ikut terekam juga. Bandingkan dengan film yang memiliki setting satu tempat saja, bukankah kalau dinilai dari sisi “kekayaan budaya”, maka nilainya akan jadi kurang?

Sementara untuk masalah biaya, rasanya di Indonesia masih banyak orang-orang kaya yang mau jadi produser film, asal dari awal pastikan bahwa film ini digarap oleh orang yang tepat agar jadi menarik, tentu membiayai film yang menampilkan kekayaan budaya akan lebih menarik daripada “membuang-buang” uang ke arah film komedi seks dan horor lagi kan?[]

 aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Noriko’s Dinner Table: Dianjurkan Untuk Tidak Menonton
Sudah lama banget saya mau bikin review film ini, tapi nggak tahu kenapa setiap kali dicobain males terus. Ada aja halangannya, sampai akhirnya jadi juga meski harus dipaksain. Bukan apa-apa, sebuah ...
Prekuel, Sekuel dan Spin Off
Di sebuah blog film  saya membaca tulisan begini: "...maka hadirlah “Terminator Salvation” yang bisa dibilang sebagai sekuel ke-4 ... menyusul “X-Men Origins: Wolverine,” “Star Trek” dan “Ange...
Catatan The Raid: Sebaris Bersama Alay
Sebenarnya bukan pilihan saya untuk nonton sendirian ke bioskop, memang rasanya lebih nyaman kalau bareng-bareng biar rame. Tapi kemarin saya terpaksa nonton The Raid sendirian di Ciwalk XXI, soalny...
Dosen Gadungan di UNPAD!
Akhirnya saya bisa merasakan juga jadi dosen. Tepatnya dosen tamu di Fakultas Seni Budaya Universitas Padjajaran. padahal nggak pernah nyangka, mimpi aja nggak berani... soalnya saya kemana-mana cum...
Montir Baru: Keiko Kitagawa
Jadi kemarin siang sambil istirahat, saya nonton film Hollywood ringan. Selalu gitu kok polanya, kalau lagi pengen istirahat dari kerjaan dan ngisi waktu dengan nonton maka saya milih film-film hibura...
Film Fantasi dan Fiksi Ilmiah Indonesia: Adakah?
Pertanyaan di atas mungkin sulit dijawab. Di Indonesia, genre film fantasi dan fiksi ilmiah kalah populer dibandingkan drama percintaan dan tema horor-mistik. Mungkin lantaran biaya produksi film fant...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

3 thoughts on “Sedikit Tentang Genre Road Movie

Leave a Reply

Your email address will not be published.