Beruntunglah, Manusia Terbuat dari Tanah

Di ruang kerja saya sekarang, sebenarnya nggak ada satupun orang yang bisa ngedit film siang-siang! Kenapa? apa ada pocong? Lho kok ada pocong siang-siang? Bisa saja lah, kalau pocongnya salah pergaulan pasti keluarnya siang!

Bukan, ini bukan soal pocong… tapi–berkebalikan dengan teori dasar editing yang lebih baik dilakukan di ruang privasi yang beku sejuk–ruangan kerja ini memang panas banget. Secara, ruang editing saya ada di lantai tiga, atapnya dari bilik dilapis seng (bukan lebay, beneran bilik dan seng! Sialnya banyak yang nyangka saya bohong soal fakta ini), sementara gedung tempat saya ngedit itu 90% terbuat dari oncom kayu yang dicat coklat tua (Agak membingungkan sih, gedung kayu tapi dicatnya dengan warna kayu… terus buat apa juga dicat ya?). Pokoknya gedung tempat saya kerja sampe dinamai “Gedung Kayu” ya karena itu alasannya, semuanya dari kayu! Kebayang dong dengan kombinasi seperti itu maka mulai jam sebelas siang ruangan ini sudah menyerap panas yang nggak bisa lagi dipantulkan keluar. Mirip sama efek rumah kaca lah, cuma ini namanya efek gedung kayu.

Jadi menurut kesimpulan saya–setelah melewati penelitian yang didominasi oleh perasaan: Seng di atas kepala ini kena sinar matahari, terus seng itu jadi panas. Makin lama seng itu makin panas dan bikin udara sekitarnya juga jadi panas. Otomatis siapapun yang posisinya tepat di bawah seng itu juga terimbas udara panas, ditambah dindingnya bercat gelap, sudah banyak yang tahu kan kalau warna-warna gelap itu menyerap panas?

Lengkaplah sudah, situasi di siang hari bener-bener bikin tempat ngedit jadi sauna, mestinya bagus kan? Sauna bisa membuat perut mengecil berat badan turun. Tapi ternyata itu nggak berlaku buat saya. Tapi yang paling kerasa adalah mood ngedit langsung hilang begitu udara bertambah panas. Jadi keseringannya saya kalau siang malah main game, tidur, atau internetan… (meski lama kelamaan nggak ada pilihan juga karena makin kesini gue rasa Facebook, Kaskus, atau Twitter sudah nggak seramai dulu lagi). Karena di Facebook sekarang kebanyakan orang jualan, ditambah polusi alay yang makin sini makin banyak (Tampaknya ini salah Raditya Dika yang malah mendukung keberadaan mereka! Hahaha…). Di Kaskus makin banyak thread BB (yang suka ngaskus pasti tahu), sementara Twitter mungkin nggak kerasa rame karena baru sekarang-sekarang saya suka mampir ke sana, jadi belum tahu ramenya sebelah mana.

Oke, kembali ke udara panas! Pada saat udara lagi panas seperti itu saya bersyukur manusia terdiri dari tulang, kulit dan daging. Maksudnya, nggak ada bahan-bahan yang bisa luntur oleh panas seperti es krim. Meski jujur saja, kadang saya merasa Tuhan menyisipkan unsur es krim waktu menciptakan saya, soalnya setiap cewek yang meludahi dan menampar kenalan sama saya selalu memandang karakter saya seperti ini:

“Dia itu manis sih, meski pas awal-awal dingin banget, tapi setelah ngobrol-ngobrol cukup lama nanti juga cair sendiri.” #EH[]

aaa

aaa

 

Share This:

Related posts:

Bekerja Untuk Saxophone
Beberapa orang mengenal saya sebagai novelis, beberapa mengenal saya sebagai editor film, kadang sering disebut juga sutradara film, dan beberapa orang yang lain mengenal saya sebagai peniup harmonika...
Setelah Enam Tahun
Kemarin, saya mengirim novel lagi ke penerbit, sebuah naskah yang sudah ditulis hampir enam tahun (September 2006 – Juni 2012). Kalau terbit, ini akan jadi novel keenam saya. Lho, selesai ditulis tah...
Pustun
Pada suatu pagi seorang gadis terbangun dan mendadak ingin sekali menjadi pustun. Keinginan itu berdentam-dentam dalam otaknya, membuatnya sangat gelisah dan berkeringat dingin. Rasanya jantungnya ber...
Kerudung Kamu Halal? Kalau Kamunya? #EH
Kemarin-kemarin sempat sebuah produk kerudung jadi trending topik yang lumayan rame, nama produknya nggak usah disebut disini lah, soalnya ntar disangka ngiklan—nggak dibayar pula buat promosi—sebab p...
Berkarya di Balik Jeruji
Dalam film Shawshank Redemption (Frank Darabont, 1994), tokoh Red berkata dalam sebuah narasinya: “Dalam penjara waktu terasa sangat panjang. Semua orang harus mencari sesuatu untuk membuatnya sibuk, ...
Perpisahan Perlahan atau Perpisahan yang Direncanakan?
Pagi ini, matahari batal terbit. Gerimis dan mendung kelabu mendera waktu sejak saat fajar harusnya ada. Saya merenung memandangi jendela yang berembun, tak tahu apa yang harus dikerjakan. Mendadak te...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

One thought on “Beruntunglah, Manusia Terbuat dari Tanah

Leave a Reply

Your email address will not be published.